Budayawan: Guru Pembawa Nilai

Editor : Lucky

Online24, Makassar – Polda Sulsel menggelar dialog terbuka “Perspektif Hukum dan Budaya dalam Kasus Pemukuan Guru” di Lobby Mapolda Sulsel, Makassar, Jumat (12/8/2016). Dialog ini terkait pemukulan guru SMKN 2 Makassar, Dasrul yang dilakukan Adnan Ahmad, ayah dari AL yang juga merupakan siswa SMKN 2 Makassar, Rabu (10/8/2016) kemarin.

“Saya dulu waktu kecil, guru masih jauh saya suda berdiri dan siap menghormati guru yang lewat mau lewar. Saya sapa, ‘Pagi bu guru’, ucap Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan.

Menurut Anton, siswa yang maju 10 langkah dalam pengetahuan namun mundur setengah langkah saja dalam moral, sebenarnya merupakan siswa yang jauh tertinggal.

Hal ini juga dibenarkan budayawan Unhas Alwirahman. Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas ini mengatakan bahwa hal ini memang sering terjadi di lingkungan sekitar. Menurutnya, masyarakat telah dicekoki dengan peradaban asing yang mengutamakan logika daripada moral.

“Ayo kita akhiri budaya kekerasan ini. Polisi merupakan penegak nilai dan guru pembawa nilai,” ucapnya.

Pengurus Besar PGRI Pusat, Muhammad Asmin, memberikan kepercayaan kepada pihak berwajib untuk penyelesaikan masalah tersebut. Asmin menganggap, polisi dalam menindak kasus pemukulan ini terbilang responsif.

Kepala SMK Negeri 2 Makassar, Chaidir Madja, meminta agar pelaku pemukulan terhadap Dasrul dikenakan pasal berlapis. Alasannya, pelaku Adnan Ahmad masuk sekolah tanpa izin dan melakukan pemukulan.

“Saya harapkan peristiwa ini menjadi yang terakhir. Maka, saya minta kepada Kapolda untuk menindak tegas pelaku, bukan hanya diberikan pasal pengeroyokan, tapi pasal berlapis,” katanya.

“Saya minta semua pihak tidak bertindak berlebihan. Saya juga tidak setuju PGRI yang tidak lagi mengizinkan AL diterima di sekolah manapun di Makassar. Perlu diingat, setiap anak memiliki hak untuk tetap mendapatkan pendidikan,” ucapnya.

(MFA)