Begini Kronologi Pemukulan Guru SMKN 2 Makassar Versi Kepala Sekolah

Editor : Lucky
Kepala SMKN 2 Makassar, Chairil Madja, memberikan penjelasan (foto: Adam Said)
Kepala SMKN 2 Makassar, Chairil Madja, memberikan penjelasan (foto: Adam Said)

Online24, Makassar – Kepala SMK Negeri 2 Makassar, Chairil Madja, menceritakan kronologi kejadian pemukulan guru Dasrul yang dilakukan Adnan Ahmad, orangtua siswa, yang ia himpun berdasarkan saksi di tempat kejadian. Kebetulan waktu kejadian, Chairil sedang mengikuti workshop di UNM Makassar.

Hal itu disampaikan Chairil saat bertemu Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di ruang rapat SMK 2 Makassar kemarin.

Berikut kronologis yang diceritakan Chairil:

“Penganiayaan terhadap guru Dasrul terjadi tanggal 10 Aguatus 2016 sekitar pukul 10.00 wita. Guru Dasrul mengajar mata pelajaran gambar bangunan II/arsitek II di kelas 11 jurusan teknik arsitektur SMK 2 Makassar, dimana Muhammad Alif Syahdan (MAS) berada, pada jam pelajaran pertama.

Sebelumnya, siswa mendapat tugas atau pekerjaan rumah (PR) menggambar dari Pak Dasrul. MAS sendiri tidak mengerjakan PR-nya,

Pak Dasrul kemudian menyuruh MAS mengerjakan kembali PR menggambarnya di kelas. MAS yang tidak membawa peralatan menggambar lalu disuruh Pak Dasrul untuk melengkapi peralatan gambarnya dengan meminjam ke kelas sebelah.

Kebetulan di kelas sebelah peralatan gambarnya sementara dipakai sehingga MAS kembali ke kelas tanpa membawa alat menggambar. Karena MAS tidak bisa mengerjakan tugas, Pak Dasrul kemudian memerintahkan MAS untuk duduk di kursi belakang.

Setelah itu, MAS kemudian keluar-masuk kelas. Guru Dasrul lalu memerintahkan MAS untuk keluar dari ruang kelas agar tidak mengganggu temannya yang sedang mengerjakan tugas. MAS tidak menerima dengan baik lalu menendang pintu kelas dan menunjuk-nunjuk ke arah Pak Dasrul sambil mengucapkan kata, “Kamu itu berlagak sok, kamu itu s…la.”

Banyaklah kata-kata kotor yang keluar dari mulut MAS. Pak Dasrul kemudian bangkit dan mendekati MAS, lalu mendorong ‘bahunya’ untuk keluar dari kelas. Pada saat guru Dasrul mendorong MAS, kaki MAS tersangkut di kursi dan terjatuh. Hal ini sontak membuat siswa lainnya tertawa.

Karena ditertawai, lantas membuat emosi MAS menjadi-jadi, ia lalu keluar dan menelfon bapaknya. MAS melapor bahwa ia dipukul gurunya, ditendang dan diinjak-injak sampai jatuh.

Datanglah bapaknya, Ahmad Adnan, ke sekolah. Ketika masuk pergantian jam pelajaran pukul 10.00 wita, Pak Dasrul lalu keluar dari kelas. MAS yang melihat Pak Dasrul kemudian berkata kepada bapaknya, “Itu guru yang memukul saya pak.”

Adnan lalu muncul dari belakang tanpa satu katapun yang keluar dari mulutnya langsung memukul Pak Dasrul. Berikut sang anak juga ikut mengeroyok Pak Dasrul bersama orang tuanya. Dua siswa lain dari kelas teknik komputer jaringan yang melihat kejadian, lalu melerai pengeroyokan itu.

“Jangan pukul guru saya, jangan pak! Jangan pak!” ujar kedua siswa tersebut.

Pak Dasrul kemudian menyelamatkan diri dengan berlari ke ruangan saya. Namun Adnan masih saja berteriak, “Saya mau hantam dia, dia kurang ajar.”

Selesai menceritakan kronologis tersebut, Chairil menegaskan bahwa guru Dasrul tidak melakukan pemukulan. “Pak Dasrul tidak melakukan pemukulan apa-apa. Apalagi penamparan seperti yang diberitakan,” tegas Chairil.

Lebih lanjut Chairil mengatakan bahwa hari Sabtu (13/8/2016), pihak SMKN 2 Makassar bersama dewan guru menggelar “konferensi kasus” dan memutuskan bahwa MAS dikembalikan ke orang tuanya untuk dididik karena pihak sekolah tak mampu mendidiknya.

“MAS dikembalikan ke orang tuanya karena beberapa pertimbangan. Kalaupun anak kembali ke sekolah, tidak akan maksimal, ia tidak bisa belajar baik bahkan bisa memicu munculnya masalah baru akibat teman kelas MAS tidak senang lagi dengannya,” kata Chairil.

“Yang kedua, guru-guru trauma sehingga tidak akan fokus mengajar lagi akibat kejadian penganiayaan siswa dan orang tuanya yang menimpa Pak Dasrul,” ungkapnya.

(ASR)