Uang Panai Bukan Adu Gengsi Masyarakat Suku Bugis Makassar

Editor : Lucky

Awaluddin Tahir / foto: Vivi
Awaluddin Tahir / foto: Vivi

Online24, Makassar – Film “Uang Panai” yang resmi dirilis di beberapa kota di Indonesia, Kamis (25/8/2016), membawa magnet tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan. Film garapan rumah produksi Makkita Cinema Production menggambarkan tentang perjuangan seorang laki-laki saat ingin meminang gadis Bugis Makassar yang diisyaratkan untuk menyanggupi uang panai.

Di Sulawesi Selatan, dalam budaya pernikahan Bugis-Makassar ada satu hal yang menjadi ciri khas yaitu uang naik atau oleh masyarakat sekitar menyebutnya uang panai’. Uang panai’ adalah sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang akan digunakan untuk keperluan pengadaan pesta pernikahan. Uang panai tidak terhitung sebagai mahar pernikahan melainkan sebagai uang adat, namun terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Di tanah Bugis, uang panai dinilai sebagai masalah sosial. Tak jarang pihak laki-laki memutuskan hubungan hanya karena tidak mampu menyanggupi permintaan dari pihak calon mempelai wanita terkait jumlah nominal uang panai.

Namun, di beberapa daerah di Sulawesi Selatan tak jarang ditemukan uang panai dengan jumlah nominal yang cukup tinggi yang menjadi kehormatan tersendiri bagi pihak calon mempelai wanita. Seperti dua kasus sebelumnya yang menggegerkan dunia maya, yakni pada tahun 2015 Indar Desrianti wanita asal Bulukumba dilamar oleh Adam Masse dengan uang panai’ sebesar Rp 500 juta dan tahun 2016 ada Andi Rahmaniar Idrus wanita asal Pinrang yang dilamar Jaya Baramuli menjadi wanita dengan uang panai tertinggi di Sulawesi Selatan, nominalnya Rp 599 juta.

Salah satu pemeran dalam film “Uang Panai”, Awaluddin Tahir, menyampaikan bahwa, film “Uang Panai” yang diambil dari tradisi atau adat masyarakat Suku Bugis Makassar memiliki nilai-nilai yang sangat baik untuk dipahami. “Setidaknya orang punya pilihan uang panai adalah gengsi. Uang panai menjadi bukti keseriusan pihak laki-laki meminang pihak perempuan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa laki-laki Bugis Makassar punya passion, semangat, dan tidak gampang menyerah. Seseorang bisa memilih apakah uang panai dinilai sebagai gengsi atau ujian dalam memperjuangkan wanita idamannya. Pada dasarnya, seorang laki-laki harus punya perjuangan dulu untuk bisa mendapatkan apa yang ia mau.

Uang panai dan jumlah nominal yang terbilang tinggi saat ingin menikahi wanita Bugis Makassar, kemudian dipersepsikan sebagian orang yang kurang paham sebagai “harga anak perempuan” atau bahkan dipersepsikan sebagai perilaku “menjual anak perempuan”. Bahkan, uang panai bergantung dari tingkat strata sosial dan pendidikan calon mempelai wanita.

“Film ini bukan untuk mengajarkan masyarakat bahwa uang panai seharusnya rendah/murah. Tetapi, film ini ingin merubah cara pandang masyarakat bahwa uang panai bukanlah gengsi melainkan bentuk keseriusan pihak laki-laki dalam meminang wanita idamannya. Seberapa besar perjuangan seorang laki-laki untuk lebih menghargai apa yang menjadi miliknya suatu saat nanti,” tambahnya.

(VI)