Maddusila Geram Balla Lompoa Diacak-acak

Editor : Fahmi
 Andi Maddusila A Idjo memperlihatkan bukti foto pengrusakan Balla Lompoa, Jumat (9/9/2016). (foto:zhoelfikar)
Andi Maddusila A Idjo memperlihatkan bukti foto pengrusakan Balla Lompoa, Jumat (9/9/2016). (foto:zhoelfikar)
Andi Maddusila saat memberi pernyataan di kediamanannya terkait pengrusakan Balla Lompoa, Jumat (9/9/2016). (foto:zhoelfikar)
Andi Maddusila saat memberi pernyataan di kediamanannya terkait pengrusakan Balla Lompoa, Jumat (9/9/2016). (foto:zhoelfikar)

Online24, Makassar – Andi Maddusila Andi Idjo mengundang sejumlah awak media ke kediamannya guna memberikan pernyataan terkait pembobolan Istana Balla Lompoa, Kamis (8/9/2016) kemarin. Menurutnya, pembobolan Istana Balla Lompoa dan kamar tempat penyimpanan pusaka yang dilakukan oleh Kasatpol PP Kabupaten Gowa, Alimuddin Tiro adalah tindakan melanggar hukum.
Untuk itu pihaknya telah melaporkan Alimuddin Tiro ke Polda Sulawesi Selatan pada Kamis (8/9/2016) kemarin.

“Kami menyertakan bukti, disini ada beberapa foto yang menunjukan orang sedang menggergaji brankas, foto gurinda dan foto-foto kerusakan di Istana Balla Lompoa”. “Mereka bilangnya mau memeriksa benda pusaka, masa memeriksa benda pusaka jam 12 malam, apalagi dengan cara memaksa, itu kan namanya rampok,” geramnya.

Terkait kabar yang sempat beredar tentang hilangnya beberapa pusaka saat di periksa oleh Satpol PP Kabupaten Gowa, Andi Maddusila membantah keras.

“Saya ditelepon Kapolda bahwa menurut laporan tim yang diturunkan oleh Kapolda sudah memeriksa kamar pusaka dan hasilnya, tidak ada satupun barang yang hilang,” imbuhnya.

“Kami keturunan Raja Gowa ingin memegang amanah leluhur, jadi tidak mungkin kami ambil. Jangankan mengambil, ada niatan mengambil saja, kita bisa kena sial 7 turunan,” ungkapnya.

Dalam konferensi pers tersebut hadir para pemangku adat Kerajaan Gowa, Perwakilan Kerajaan Malusu Toraja Utara sekaligus sebagai pengamat budaya, Margareta Mangiri, perwakilan dari Datuk Luwu H Maradang Makkulau, yang juga sekaligus sebagai pengamat budaya, Andi Irman Nur Parandrang. (mnu)