Kerugian Negara Di TVRI Capai Rp 400 Miliar

Editor : Fahmi
(int)
(int)

Online24, Jakarta – Potensi kerugian negara di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Televisi Republik Indonesia (TVRI), yang mencapai Rp 400 miliar disoroti secara khusus oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama empat tahun terakhir tidak memberikan opini (disclaimer) atas laporan keuangan lembaga penyiaran milik pemerintah itu.

“Presiden menanggapi secara khusus masalah TVRI. Empat tahun disclaimer dan potensi kerugian negara ada sekitar Rp 400 miliar,” ujar Ketua BPK Harry Azhar di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/10).

Harry menjelaskan, Presiden Jokowi akan menugaskan pejabat kementerian terkait untuk mengecek kondisi TVRI. Salah satu penyebab laporan keuangan TVRI disclaimer adalah aset negara sebesar Rp 54 miliar, yang mencakup lahan di sejumlah daerah.

“Aset TVRI seolah tidak jelas . Presiden menanggapinya seperti itu,” kata Harry.

Sementara berdasarkan hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan 85 Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL). Pada LKPP tahun 2015, BPK memberikan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).

Harry mengatakan hasil pemeriksaan pemerintah pusat tahun 2015 terjadi penurunan dibandingkan tahun 2014, dari 71% menjadi 65%. “Tetapi disclamer-nya juga turun dari 7 K/L menjadi 4 K/L, yang naik adalah WDP-nya,” lanjutnya.

Sedangkan LKKL tahun 2015, BPK memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada 55 LKKL atau 65%, opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) kepada 26 LKKL atau 30%, dan opini Tidak Memberikan Pendapat (TMP) kepada 4 LKKL atau 5%.

Di tingkat pemerintah daerah, berdasarkan hasil pemeriksaan 2014, opininya dari 47% naik menjadi 58% pada tahun 2015. “Jadi agak lebih agresif tingkat perbaikan di pemerintah daerah,”jelasnya.

Pada pemeriksaan pada pemerintah daerah, memuat hasil pemeriksaan atas 553 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Dari hasil tersebut, BPK memberikan 312 opini WTP, 187 opini WDP, 30 opini TMP, dan 4 opini TW.

“Temuan yang kita terima selama pemeriksaan semester I 2016, itu ada 10.198 dan temuannya itu mengandung 15.568 permasalahan,” kata Harry.

(*)