Kronologi Tewasnya Agung Versi Polsek Ujung Pandang

Editor : Fahmi
Kapolsek Ujung Pandang, AKP Ananda Fauzi Harahap Tunjukkan Barang Bukti Hasil Kejahatan Alm. Agung Pranata. (foto:zhoelfikar/ online24)
Kapolsek Ujung Pandang, AKP Ananda Fauzi Harahap Tunjukkan Barang Bukti Hasil Kejahatan Alm. Agung Pranata. (foto:zhoelfikar/ online24)

Online24, Makassar – Beredarnya kabar yang disampaikan pihak keluarga Agung Pranata warga BTN Minasa Upa yang menyebutkan Agung tewas diduga dianiaya anggotanya diklarifikasi Kapolsek Ujung Pandang, AKP Ananda Fauzi Harahap di Warkop Amanagappa, Kamis (6/10/2016) malam. Kepada awak media, ia menuturkan kronologi penangkapan Agung pada Jumat (30/9/2016) lalu termasuk membantah bahwa korban dipukuli bawahannya.

“Kasus pecah kaca dibeberapa daerah selama 14 hari. Lalu kita masuk ke kediamannya, disana ada kakek dan istrinya yang menyaksikan. Kakeknya menyampaikan Agung ada di kamar. Agung saat itu tidak kooperatif, kakeknya bilang dobrak saja pak dan meminta tidak memberitahukan kalau sang kakek yang menyuruh mendobrak,” papar Ananda.

Olehnya itu, Kapolsek menaruh curiga atas ucapan kakeknya tersebut. Sebelumnya, Polsek sudah meminta izin ke RT dan RW setempat.

“Ada izin dari pemerintah setempat, kita masuk kedalam rumah diperkuat statemen dari kakeknya. Didobrak pintunya, dia didapati memeluk bayinya dengan cengkraman kuat hingga seperti tidak bernafas karena dijadikan tameng. Personil kami waktu itu hanya fokus menyelamatkan si bayi. Lalu ditariklah tangan pelaku agar melepas cengkramanya,” ujarnya.

Agung Pranata warga BTN Minasaupa Blok F19 dicurigai dianiaya oknum Polsek Ujung Pandang, saat dirawat dirumah sakit beberapa waktu lalu. (online24jam.com)
Agung Pranata warga BTN Minasaupa Blok F19 dicurigai dianiaya oknum Polsek Ujung Pandang, saat dirawat dirumah sakit beberapa waktu lalu. (online24jam.com)

Pada saat bayi berusaha dilepaskan, dia memberontak dan posisi kakinya diatas. Ia membenturkan badannya ke benda keras di kamarnya, lanjut Ananda.

“Bayi berhasil di evakuasi, lalu diberikan ke istri Agung, Fatilan. Istrinya berkata, sudahmi pak berikan saja ke Agung. Kami lalu memberikan pemahaman sehingga ia mau menerima sang bayi. Agung kita bawa, dia tidak mau berdiri,” lanjutnya.

Ananda menegaskan proses Agung mendapati luka dibadannya karena membenturkan badannya ke benda keras di kamarnya, bukan karena dianiaya bawahannya.

“Setelah itu personel membawa Agung bersama barang bukti sabu dan hasil kejahatannya. Bersama tiga orang lainnya yakni sepupunya, Jengger (26) serta Rahmat (24) dan Adri (28). Mereka kami bawa ke mobil patroli lalu digelandang ke Mapolsek,” tambahnya.

Luka lebam pada tubuh korban. (online24jam.com)
Luka lebam pada tubuh korban. (online24jam.com)

Ananda melanjutkan, pihaknya juga merasa empati terhadap Agung.

“Dalam perjalanan, hujan turun dan Agung kedinginan. Sesampainya di Polsek Ujung Pandang, kami meminta rekannya mengganti bajunya. Setelah itu, pukul 10.00 pagi kami melakukan pemeriksaan namun si Agung tertidur. Menurut sepupunya Jengger, Agung belum tidur 3 hari karena nyabu dengannya. Jadi kami biarkan dia istirahat. Beberapa jam kemudian, kita minta temannya bangunkan dia untuk diperiksa dan memberi dia air putih lewat rekannya. Saat diberi air, temannya sempat bilang janganki bikin susah Agung, namun dia tidak bergerak,” tegasnya.

Karena tak juga bangun, Ananda lalu menelfon Dokter Polisi Polrestabes Makassar untuk memeriksa keadaan Agung.

“Saat itu keluar air liur dimulutnya. Dalam pengawasan Dokpol kita evakuasi dia ke RS Bhayangkara. Pukul 14.50 wita di ICU dia meninggal dunia,” terangnya.

Penyebab kematian Agung diserahkan ke Dokpol. Pihaknya belum bisa menjelaskan penyebab kematiannya.

“Apakah dia overdosis itu bukan kami yang menentukan. Kesimpulannya, kami tidak bisa menyimpulkan penyebab kematian Agung, biarlah dokter yang menjawabnya,” pungkasnya.

(ars)