Mengenal Saoraja Kulo, Istana Raja di Sidrap

Reporter :
Editor : ifan Ahmad

 Bangunan Saoraja Kulo, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap.
Bangunan Saoraja Kulo, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap.

Online24, Sidrap – Kulo, kecamatan Kulo, kabupaten Sidrap dengan jarak tempuh dari ibukota kabupaten sekitar 20 kilometer dan berada di titik koordinat S 03. 46. 593″, E 119.47. 813″ dengan elevasi 40 meter dari ketinggian permukaan laut.

Rumah tersebut berbentuk huruf L dengan orientasi Saoraja tersebut menghadap dari barat ke timur dan berumur kurang lebih 200 tahun.

Saoraja Kulo mempunyai ukuran panjang 24 meter, lebar 12 meter dan tinggi 9 meter, berbentuk rumah panggung dengan jumlah tiang 54 buah.

Bahan dasar Saoraja Kulo terbuat dari kayu Cenrana dan ada beberapa bagian yang di ganti dengan menggunakan kayu ulin dan telah mengalami beberapa kali renovasi, terutama pada bagian atap dan dinding rumah, kemudian jendela yang asli menurut keterangan menggunakan bambu dan sekarang telah di ganti dengan kaca karena kondisi yang lagi tren.

Bagian depan rumah terdapat teras ( lego-lego ) dengan tangga yang mempunyai railing bermotif flora beragam. Atap mengikuti pembagian ruang, atap utama yang melindingi ruang utama yang memiliki 4 bubungan (Timpalaja ).

Bagian rumah terbagi menjadi lima bagian yaitu, bagian teras, ruang tamu, ruang kamar tidur, ruang tengah untuk makan dan ruang dapur.

Staff Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan dan Pariwisata, Bakhtiar Said, Senin (26/12/2016) menguraikan, sejarah┬áSaoraja Kulo atau Rumah Istana Raja Arung Kulo didirikan sekitar abad ke – 19 oleh Arung Kulo ke-VI La Makkarodda atau Petta Janggo dan telah berusia sekitar 200 tahun. Kulo pada mulanya berdiri sendiri sebagai satu kerajaan otonom, kemudian bergabung dengan kerajaan Rappang menjadi Lili Passiajingenna Arung Rappang.

Dalam Kerajaan Rappang itu ada empat Lili yaitu Lilina Kulo, Lilina Lalebata, Lilina Benteng, lilina Passeno

Saoraja Kulo mempunyai kegiatan rutin setiap tahunnya yaitu upacara adat “Maccera Manurung” yang dilaksanakan puluhan tahun silam hingga saat ini.

Upacara tersebut dilaksanakan pada hari Senin, minggu ke- 2 bulan November. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari dengan agenda acara, yaitu pencucian benda-benda pusaka kerajaan seperti tombak, keris, badik dan simbol-simbol kerajaan Kulo yang dilaksanakan oleh pihak kerabat keluarga kerajaan Kulo, acara untuk menidurkan kerbau ( mappatinro tedong), mengayun ( Mattojang ), mappadendang dan lain-lain.

Acara mappatinro tedong, yaitu dengan satu ekor kerbau atau lebih dengan cara menidurkan kerbau dan besok paginya kerbau di bawa mengelilingi Saoraja sebanyak tiga kali putaran dan setelah itu di sembelih.

Acara ini di hadiri oleh semua komponen masyarakat, tokoh adat baik dari dalam daerah maupun luar daerah Siidenreng Rappang, aparat pemerintah, wisatawan dan sebagainya.

Kegiatan adat ini sudah menjadi agenda tahunan di Kulo dan masyarakat setempat ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan tersebut termasuk dalam hal pendanaan kegiatan ini.