Memaknai Pergantian Tahun

Bahrul Ulum Ilham (warga Makassar)
Bahrul Ulum Ilham (warga Makassar)
Catatan Ringan di Penghujung Tahun
MEMAKNAI PERGANTIAN TAHUN
Bahrul Ulum Ilham (warga Makassar)
Online24, Makassar – Tiada terasa kita telah berada di penghujung tahun 2016 dan sebentar lagi fajar tahun baru 2017 segera menyingsing. Ini berarti, umur kita berkurang lagi setahun dengan pergantian tahun kali ini. Pertanyaanya, sudahkah kita memanfaatkan kesempatan dan modal waktu yang diberikan oleh Allah SWT tahun 2016 dengan sebaik-baiknya? Kalau belum, mari jadikan pergantian tahun 2017 ini dengan tekad untuk memanfaatkan sisa umur kita untuk beribadah dan mengabdi kepada sang Khalik dengan sebaik-baiknya.
Subhanallah, Maha Suci Allah  yang telah menggantikan malam dengan siang dan sore pun menyongsong malam. Hari berlalu menyusun pekan. Hitungan bulan-bulan pun membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada siaran ulang.
Bagi seorang muslim, sesungguhnya waktu adalah modal. Begitu berlalu, hilang. Bagi orang sholeh sajalah yang akan memanfaatkan waktu sebagai ajang untuk beramal. Dan merugilah bagi mereka yang gagal mengisi waktu hidupnya dengan amalan sholeh.
Pemahaman inilah yang pernah menggugah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, karena sangat lelah, Umar menolak kunjungan seorang warga. “Esok pagi saja!” ucapnya spontan. Khalifah Umar berharap esok pagi ia bisa lebih segar sehingga urusan bisa diselesaikan dengan baik.
Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba menyentak kesadaran sang Khalifah. Warga itu mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin akan tetap hidup esok pagi?” Mendegar ucapan itu Umar pun langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima kunjungan warga itu.
Ya, menganggap remeh sebuah ruang waktu sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,” (Al-Ashr: 1-2)
Sayang, di penghujung tahun justru banyak manusia yang merugi karena menghabiskan waktu dengan maksiat, bakan rela mengorbankan harta dan tenaganya demi mengistimewakan pergantian malam tahun baru. Padahal, sejatinya pergantian tahun adalah hal yang biasa dan tidak ada yang istimewa dari pergantian waktu.
Kita menyaksikan, anak-anak muda melakukan hura-hura, pesta narkoba, hingga seks bebas, dengan alasan merayakan malam tahun baru. Hura-hura di malam tahun baru menjadi cerminan bahwa kapitalisme semakin dominan.  Kapitalisme mengutamakan kepentingan kapital, di mana ada dorongan kuat untuk digelar acara-acara hedonis dan hura-hura. Di balik acara tahun baru ada kepentingan bisnis, mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya.
Di penghujung tahun, mari sejenak merenung ketika jatah waktu kita terus berkurang, seberapa efektif kita memanfaatkan modal waktu untuk beramal sholeh?. Dan, semoga kita bukan termasuk orang-orang yang nanti menyesal di hari kemudian. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini,” (Al-Fajr: 23-24).
Patut juga direnungkan kiranya Hadist Rasulullah SAW dalam Sunan Tirmidzi, “Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?; (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?; (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?
Pada akhirnya di penghujung tahun ini mari melakukan muhasabah atau melakukan evaluasi, merumuskan kembali target dalam kehidupan. Melakukan evaluasi diri kegiatan apa yang perlu kita pertahankan dan perlu ditingkatkan dalam menggapai cita-cita atau kesuksesan hidup. Semoga ridha dan berkah Allah SWT selalu menyertai kita semua. Aamiin.