Kemendikbud Klaim 12.752 Ruang Kelas Telah Direhabilitasi Selama Tahun 2016.

Reporter :
Editor : Endhy
Mendikbud, Muhadjir Effendy (bersongkok) bersama Sekretaris Jenderal, Didik Suhardi, Inspektur Jenderal Daryanto, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Totok Suprayitno, dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid saat menggelar konfrensi pers di Jakarta.
Mendikbud, Muhadjir Effendy (bersongkok) bersama Sekretaris Jenderal, Didik Suhardi, Inspektur Jenderal Daryanto, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Totok Suprayitno, dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid saat menggelar konfrensi pers di Jakarta.

Online24, Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merilis pencapain target program prioritas nasional di bidang pendidikan dan kebudayan. Minggu (01/01/2017 )

Dalam siaran pers tersebut, ada lima hal pokok yang telah dilakukan Kemendikbud sebagai landasan umum dalam menjalankan program-program kementerian. Pertama, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Kedua, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. Ketiga, melakukan revoluasi karakter bangsa. Keempat, memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial di Indonesia. Dan kelima, penguatan tata kelola dan partisipasi publik.

Dalam peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia, ada sembilan program prioritas yang telah dijalankan sepanjang tahun 2016. Program-program tersebut adalah Distribusi Kartu Indonesia Pintar (KIP), Sertifikasi Guru, Akreditasi Sekolah dan Lembaga, Unit Sekolah Baru, Peningkatan Kompetensi Guru, Pembangunan Perpustakaan, Ruang Kelas Baru, Tunjangan Profesi Guru (PNS dan Non-PNS), dan Rehabilitasi Ruang Kelas. Salah satu capaian yang diraih adalah jumlah ruang kelas yang berhasil direhabilitasi melebihi target, yaitu sebanyak 12.752 ruang, dari target 11.633 ruang.

Sementara Di bidang kebudayaan, setidaknya ada empat program utama yang berhasil dijalankan dengan baik, sesuai target. Pertama, Revitalisasi Desa Adat, dengan realisasi sesuai target, yaitu 139 desa. Kedua, Pelestarian Cagar Budaya, dengan realisasi sesuai target, yaitu 3.375 unit. Kemudian memfasilitasi komunitas budaya dengan realisasi sesuai target, yaitu 334 komunitas. Dan revitalisasi museum dengan realisasi 17 museum dari target 24 museum. Program-program di bidang kebudayaan itu turut memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial di Indonesia, termasuk program di bidang bahasa, antara lain menambah lema (kosakata) dalam kamus, serta pengembangan istilah.

Mendikbud menuturkan, Kemendikbud juga melakukan penguatan tata kelola dan partisipasi publik dengan capaian berupa status integritas dari KPK yang menyatakan Kemendikbud sebagai wilayah bebas dari korupsi (WBK), serta indeks kepuasan pemangku kepentingan yang mencapai angka 77.

Selain itu, sesuai amanat Presiden Joko Widodo, yaitu Membangun dari Pinggiran, Kemendikbud juga memiliki program Sekolah Garis Depan (SGD) dan Guru Garis Depan (GGD) di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

“Sekolah Garis Depan adalah perwujudan Nawa Cita ke-3 dengan pembangunan sekolah di daerah 3T,” tutur Mendikbud.

Hingga saat ini Kemendikbud telah membangun 114 SGD yang tersebar di 49 kabupaten/kota. Sementara program GGD merupakan pengiriman guru ke daerah 3T sebagai salah satu upaya pemerataan distribusi guru. Pada tahun 2016, Kemendikbud telah mengirim 6.2.96 guru dalam program GGD.

Dalam konferensi pers tersebut, Mendikbud, Muhadjir Effendy didampingi para pejabat eselon 1 dan 2 Kemendikbud. Mereka yang hadir antara lain Sekretaris Jenderal, Didik Suhardi, Inspektur Jenderal Daryanto, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Totok Suprayitno, dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid.