Masjid JerraE di Sidrap Disanggah Kayu Pohon Cabai

Reporter :
Editor : Lucky
 Masjid Taqwa JerraE
Masjid Taqwa JerraE

Online24, Sidrap – Salah satu masjid tertua di Sidrap yakni Masjid Taqwa JerraE yang terletak di Dusun Jerrae, Desa Allakuang, Kecamatan Maritanggae, punya keunikan tersendiri.┬áDalam usianya yang berkisar 450 tahun lebih, konon tersiar kalau pilarnya terbuat dari batang tanaman cabai (lombok).

Imam Masjid JerraE, Indar, membenarkan hal itu. Dicerita, Addatuang Sidenreng I La Patiroi beserta Nenek Mallomo (La Pagala) dan Syeh Bojo sekitar tahun 1607 M bahu membahu membangun masjid yang sekarang ditempatinya. Dari riwayat itu pula, tertancap 4 pilar yang diakui dari pohon cabai dan atapnya bersusun tiga menyerupai masjid Demak di Jawa.

“Konon empat kayu pohon cabai ini di ambil di Gunung Nepo (Kecamatan Panca Lautan) dan diangkat sekaligus oleh salah seorang di antara mereka dan hingga saat ini belum pernah diganti,” kata Indar, Sabtu (7/1/2017).

Kini, paut usia membuat atap dan lantai akhirnya terenovasi. “Atapnya dulu dari ijuk dan sekitar tahun 2000 lalu diganti dengan atap seng,” ujarnya.

Untuk lantai dan dindingnya diubah sejak tahun 2009 melalui bantuan Pemerintah Provinsi Sulsel dan sebagian dari kas masjid.

Soal imam yang cocok di masjid ini adalah mereka yang harus sedarah. Adapun Imam yang pertama adalah Syeckh Bojo sekaligus yang menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk saat itu. Setelah wafat diteruskan oleh Addatuang Panguriseng. “Untuk menjadi imam di masjid tua ini harus turun-temurun,” ucap Indar.

Tidak sampai disitu, masjid ini juga dikenal mengorbit tokoh agama terkemuka yakni KH Abduh Pabbaja dan KH Yunus Maratang. Pernah pula, selama 30 tahun lebih salat Jumat tak terselenggara karena alasan yang tak jelas.

“Sejak tahun 1979 hingga tahun 2009, masjid ini tidak pernah digunakan jamaah untuk salat Jumat dan hanya untuk salat fardu saja,” kata Indar.

Namun berkat kegigihan salah satu tokoh masyarakat yakni Bahri, masjid ini kembali ditempati salat dan dibuka langsung oleh Kepala Kejaksaan dan Bupati Sidrap pada tahun 2009 lalu.

“Sekarang sudah ditempati salat Jumat bahkan digunakan saat Lebaran setelah masyarakat membubuhkan tanda tangan di secarik kertas sebagai tanda persetujuan menempati masjid ini untuk salat Jumat,” pungkasnya.(*)