Guru Besar Unhas Kembangkan Desa Balocci Maros Sebagai Penghasil Pisang Cavendish

Reporter :
Editor : Lucky
Guru Besar Unhas, Prof Andi Wardihan Sinrang, mengembangkan bibit pohon pisang cavendish di Dusun Balocci, Maros
Guru Besar Unhas, Prof Andi Wardihan Sinrang, mengembangkan bibit pohon pisang cavendish di Dusun Balocci, Maros

Online24, Maros – Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan bibit pohon pisang Cavendish di Dusun Balocci, Desa Benteng Gajah, Kecamatan Moncongloe, Maros, Sabtu (11/2/2017).

Sebagai tahap awal, sebanyak 1.000 pohon pisang Cavendish hasil penelitian dengan sistem kultur jaringan bebas hama penyakit akan disalurkan lembaga Bina Bahagia Manajemen (BBM) secara gratis ke Kelompok Tani Balocci.

CEO BBM, Prof Andi Wardihan Sinrang, mengatakan, lembaganya hadir sebagaiĀ  penyambungĀ  hasil penelitian di kampus Unhas untuk diterapkan kepada masyarakat.

“Kami telah turun ke kampung ini untuk mensinergikan hasil-hasil penelitian di kampus Unhas dengan potensi apa yang bisa dikembangkan. Kita buatkan lembaga BBM supaya masyarakat punya kepastian pasar. Sudah ada beberapa supermarket yang kita ajak kerjasama untuk menjual produk ini nantinya dan bahkan mereka meminta kami memenuhi pasar Indonesia Timur,” kata Wardihan yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Unhas ini.

Sementara itu, Kepala Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi Unhas, Prof Baharuddin yang juga pakar di bidang pisang mengatakan bibit yang akan dikembangkan nanti adalah bibit pisang kualitas ekspor.

“Pisang Cavendish memiliki kualitas ekspor dan bisa masuk di supermarket. Tantangannya harus skala luas dan itu kita akan kembangkan disini,” kata Bahararuddin yang meraih gelar magister dan doktornya di Just Agus University, Nottingham Jerman dengan bidang bioteknologi pertanian ini.

“Kelebihan pisang ini mengandung banyak vitamin dan rasanya enak sehingga bisa dijual perkilogram seharga Rp 20 ribu dan satu tandang itu bisa mencapai 20 kilogram sehingga pertandang harga totalnya Rp 400 ribu. Coba kita bandingkan dengan pisang kepok setandang hanya 50 ribu hingga 100 ribu,” tuturnya.

Pihaknya ingin menjadikan kawasan Desa Benteng Gaja sebagai kawasan pisang cavendish. “Bisnis ini sudah jelas pasarnya. Penanganan pasca paneng hingga packing nanti juga kita siapkan disini. Bahkan supermarket menginginkan kita menangani permintaan pasar di Indonesia Timur,” ungkapnya.

Program ini disambut baik kelompok tani Balocci. Sebelumnya, sudah ada program yang sama dari pemerintah, namun gagal karena tidak memiliki harga di pasaran. Melihat para ahli kampus Unhas turun langsung mengaplikasikan hasil penelitiannya, mereka pun kembali bersemangat untuk meningkatkan penghasilannya dengan menanam pisang Cavendish.

“Kami patut syukuri program ini karena kampung lain belum tentu mendapatkan ini. Mereka para ahlinya menyempatkan waktunya demi mau melihat kesejahteraan petani disini. Melihat perubahan ekonomi khususnya warga Benteng Gajah,” ucap Ketua Kelompok Tani Balocci, Ansar.

Selain pengembangan pisang cavendish, peternakan ayam kampung juga akan dikembangkan di desa ini.

Turut hadir akademisi Unhas lainnya seperti Dosen Unhas Fakultas Sastra Prof Ambo Takko dan Dosen Fakultas Mipa Unhas Drs Muh Hasbi yang juga menggeluti peternakan ayam kampung.(*)