Dubesnya Disebut Mata-mata, Rusia Marah Kepada Amerika

Editor : Endhy

Online24, Moskow – Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negerinya berang dan membantah laporan yang menyebut Duta Besarnya di Amerika Serikat sebagai mata-mata, di tengah kontroversi pertemuannya dengan Jaksa Agung Jeff Sessions.

Duta Besar Sergey Kislyak dianggap intelijen Amerika Serikat sebagai salah satu agen dan perekrut mata-mata Rusia di Washington.

Namun, ketika dikonfirmasi terkait laporan tersebut, juru bicara Kemlu Rusia, Maria Zakharova, menampiknya dengan menyebut Kislyak sebagai diplomat kelas dunia yang dikenal baik.

“Dia adalah wakil menteri luar negeri Rusia, yang telah berkomunikasi dengan rekan-rekan di Amerika di berbagai bidang selama puluhan tahun, dan salah satu media di Amerika menuduhnya sebagai mata-mata Rusia? Ya Tuhan!” ujarnya, Jumat (3/3).

Sessions didesak politisi Demokrat agar segera mengundurkan diri, setelah dilaporkan dua kali bertemu dengan Kislyak tahun lalu. Namun yang jadi masalah adalah pertemuan ini tidak dia akui dalam sidang konfirmasi penunjukannya sebagai jaksa agung. Dia mengaku tidak berupaya untuk menyesatkan Kongres dengan jawaban yang ia sampaikan dalam sidang.

Menurut Zharakova, laporan media mengenai pertemuan kedua pihak tidak mendasar. Dia juga menyebut laporan-laporan itu sebagai upaya untuk menyesatkan informasi dan sejenis tindakan vandalisme.

Dia pun membela peran diplomat Rusia secara umum. “Semua orang tahu bagaimana diplomat bekerja dan pekerjaan mereka termasuk berhubungan dengan orang lain, jelasnya.

Secara terpisah, ditanyai soal ini, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, tidak ada satu pun yang mendengar pernyataan soal duta besar kami.

“Ini adalah asumsi media yang terus berupaya untuk membesarkan masalah,” kata Peskov.

Peskov juga berkeras bahwa Rusia tidak pernah mencampuri urusan dalam negeri bangsa lain dan tidak pernah berencana untuk melakukan itu. Dia mengatakan, belakangan ini, keadaan terlalu emosional dan cukup memengaruhi prospek pertemuan antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.