Dewan Adat Keluarga Besar Sulapa Eppae Lantik Kepengurusan Pertama di Makassar

Reporter :
Editor : Asri Muhammad

Ketua Dewan Adat Keluarga Besar Sulapa Eppae, Andi Mappewakkang Abdullah (kiri) melantik kepengurusan pertama di Hotel Pesona, Jalan Andi Mappanyuki, Makassar, Minggu (5/3/2017).
Ketua Dewan Adat Keluarga Besar Sulapa Eppae, Andi Mappewakkang Abdullah (kiri) melantik kepengurusan pertama di Hotel Pesona, Jalan Andi Mappanyuki, Makassar, Minggu (5/3/2017).

Online24, Makassar – Dewan Adat Keluarga Besar Sulapa Eppae (KBSE) menggelar pelantikan anggota dewan adat serta rapat kerja pertama di Hotel Pesonna, Jalan Mappanyukki, Makassar, Minggu (5/3/2017).

Dewan adat Sulapa Eppae, terbentuk setelah muktamar pertama yang dilaksanakan di Rumah Adat Sao Mario, Batu-batu, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng pada 8-9 Juni 2016 lalu. Dewan adat ini, memiliki pengurus pusat berjumlah 7 orang yang diketuai Andi Firman Jaya Andi Burhanuddin Pangera.

Ketua Panitia Pelaksana Muh Saleh Husain mengatakan, pelantikan kepengurusan dewan adat serta rapat kerja pertama ini diharapkan menjadi penyambung silaturahmi sesama anggota.
ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Andi Mappewakkang Abdullah yang ditunjuk sebagai ketua dewan adat kemudian melantik Prof DR H Andi Mustarif Pide sebagai wakilnya, Muh Rasyidi Juhamran sebagai sekretaris, Syahrir Mahmud sebagai wakil sekretaris, DR A Mihrani Rauf sebagai bendahara serta 13 anggota dewan adat.

Anggota dewan adat Keluarga Besar Sulapa Eppae Prof Saleh Pallu yang juga Rektor Unibos saat membawa sambutan mengatakan, terbentuknya dewan adat ini selain untuk menjalin silaturahmi, juga untuk melestarikan adat budaya yang dinilai sudah tergerus oleh perkambangan teknologi.

“Ini adalah keluarga besar Bugis khususnya yang ada di Sengkang dan Kabupaten Soppeng. Kalau kita berbicara adat, setiap suku memiliki adat. Tapi dari tahun ke tahun terjadi degradasi adat. Olehnya itu, ini adalah memontem untuk mempertahankan adat dan budaya yang kita kenal dengan Bugis,” kata Saleh.

“Dari dulu orang tua kita selalu menjaga adat. Tapi karena perkembangan teknologi membuat adat kita juga berubah. Seperti silaturahmi, kalau kita makan bersama keluarga dan telah memesan menu, mereka langsung menggunakan ponsel. Ini salah satu contoh kecil adat budaya kita yang terkikis akibat kemajuan global,” tambahnya.

Master Enginering ini juga berharap program yang dilahirkan dewan adat nantinya mampu mendukung program pemerintah dalam mengembangkan program pariwisati sektor adat dan budaya.

“Melalui pertemuan ini saya mengajak kalian untuk menjadikan organisasi ini lebih besar dan mendukung program pemerintah. Salah satu program pemerintah adalah merangkul seluruh adat dengan membentuk dewan kerukunan nasional dan diharapkan nantinya dapat memajukan sektor pariwisata kita,” tutup Saleh.