Rektor di Padang Ini Siap Pertahankan Darah Bugisnya Meski Dicuci Tujuh Air Sungai

Editor : Asri Muhammad
Turn off for: Indonesian
Rektor Universitas Eka Sakti Padang, Prof Dr H A Mustari Pide.
Turn off for: Indonesian Rektor Universitas Eka Sakti Padang, Prof Dr H A Mustari Pide.

Online24, Makassar – Ketua Umum Dewan Adat Keluarga Besar Sulapa Eppae Andi Mappewakkang Abdullah, baru saja melantik struktur kepungurusan pertama lembaga adatnya di Hotel Pesonna, Jalan Andi Mappanyukki, Makassar, Minggu (5/3/2017)

Rektor Universitas Ekasakti Padang, Sumatera Barat Prof H Andi Mustari Pide, ditunjuk sebagai wakil ketua umum. Pria kelahiran Batu-batu, Kecamatan Marioriwawo, Soppeng itu kini berdomisili di Padang dan mendapat gelar Datuk Rajo Nan Sakti.

Meski telah lama meninggalkan kampung halamannya dan mempersunting wanita Minang, ia mengaku tetap mempertahankan darah Bugis yang mengalir dalamdarahnya.

“Saya tegaskan, meski saya dicuci tujuh air sungai berbeda, saya tetap mempertahankan darah Bugis yang mengalir di dalam tubuh saya. Kalau saya ketemu orang Bugis disana dan mereka mau bersekolah (kuliah) saya gratiskan,” kata Mustarif saat membawa sambutan.

Terbentuknya dewan adat ini, tidak luput dari pengalamannya selama di Padang dan menjadi Ketua Forum Kebangsaan Sumatera Barat yang membawahi berbagai etnis.

“Selama saya menjadi ketua forum kebangsaan, disitu saya perhatikan bagaimana mereka mempertahankan adat budayanya. Meski tinggal di Sumatera Barat, warga Tionghoa disana tetap menjaga adat istiadatnya,” tuturnya.

“Sementara kita bandingkan di kampung kita, kantor gubernur saja rumahnya orang Belanda (arsitek Belanda). Dimana identitas kita sebagai orang Bugis,” lanjutnya.

Salah satu bukti konkret kepedulian Mustari mempertahankan adat istidat orang Bugis Sengkang – Soppeng, adalah dengan mendirikan rumah adat Sao Mario di Batu-batu, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Rumah adat ini juga dijadikan tempat pelaksanaan muktamar pertama Dewan Adat Keluarga Besar Sulapa Eppae yang dihadiri ribuan orang Bugis dari berbagai penjuru Tanah Air pada 6-9 Juni 2016 lalu.

Ia berharap dengan terbentuknya dewan adat Sulapa Eppae, mampu menjadi wadah untuk membentengi eksistensi adat budaya orang Bugis yang kini mulai tergerus zaman.

“Pertama ini sebagai wadah untuk bersilaturahmi sesama orang Bugis. Kedua dengan kehadiran dewan adat ini, diharapkan mampu menjaga adat istiadat yang menjadi identitas kita,” tandas Mustari.