Bahas Isu Terorisme dan Freeport, Wapres AS Akan Berkunjung ke Indonesia

Editor : Endhy

Online24, Wasington DC – Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence dijadwalkan akan mengunjungi Indonesia dan bertemu Presiden Joko Widodo pada April mendatang. Dalam pertemuan nantinya, keduanya dikabarkan akan membahas sejumlah isu bilateral seperti keamanan dan terorisme.

Kedua pimpinan negara tersebut nantinya akan membahas terkait sengketa kontrak usaha pertambangan yang tengah memanas antara Indonesia dan anak perusahaan tambang AS Freeport McMoran Inc, PT Freeport Indonesia.

Masalah ini akan dibahas lantaran Freeport mengancam akan membawa sengketa ini ke pengadilan arbitrase jika kedua pihak belum juga menemukan kata sepakat terkait aturan izin rekomendasi ekspor dengan ketentuan status Kontrak Karya (KK).

Apalagi, mengenai perubahan izin usaha Freeport dibuat permintaan Indonesia, justru dianggap menyebabkan kemunduran besar bagi usaha tambang mereka di Papua.

Sementara itu, Menteri Kordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, belum mau berbicara banyak soal rencana kedatangan orang nomor dua Amerika ini. Dia mengatakan, belum ada waktu pasti mengenai lawatan Pence ke Indonesia. Bersama perwakilan AS di Indonesia, ia menuturkan bahwa pemerintah masih membicarakan rencana kunjungan Pance ke Indonesia.

“Kami lagi membahas rencana Wakil Presiden AS, Mike Pence ke Indonesia dan sejumlah masalah strategis yang akan dibahas kedua negara nanti,” tutur Wiranto usai bertemu dengan Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph R Donovan di kantornya.

Selain Indonesia, Pence diberitakan akan berencana mengunjungi Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Tur ke sejumlah negara Asia ini dikabarkan dilakukan Pence untuk membuktikan komitmen AS di Asia dan penguatan kerja sama dengan negara-negara di kawasan.

Selain Pence, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson juga direncanakan akan mengunjungi Jepang, Korea Selatan, dan China. Kunjungan Tillerson ke negara Asia ini dilakukan guna membahas ancaman aktivitas rudal dan program nuklir Korea Utara yang kian memprihatinkan.