Mantan Presiden Korsel Tunggu Keputusan Sidang Kasus Korupsi

Editor : Endhy

Online24, Seoul – Mantan Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye tiba di kantor pengadilan untuk mendengarkan putusan hakim terkait penetapan penahanan dirinya atas kasus penyalahgunaan kekuasaan dalam skandal korupsi yang menjeratnya.

Dengan tergesa-gesa, presiden ke-11 Korsel itu langsung memasuki gedung Pengadilan Pusat Distrik Seoul, Kamis (30/3/2017) sekitar pukul 11.00 waktu setempat, tanpa menghiraukan segerombolan media yang datang menunggunya.

Selain itu, Sejak pagi, ratusan massa terlihat meramaikan lingkungan rumah Park di distrik Gangnam, Selatan Seoul. Para pendukungnya terlihat bergerombol meramaikan jalanan sambil mengibarkan bendera.

Sejumlah pendukung Park bahkan mencoba menerobos barikade polisi, dan berupaya memblokade konvoi kendaraan yang ditumpangi Park menuju pengadilan.

Sidang hari ini diperkirakan akan berlangsung lama. Usai sidang, Park akan dipindahkan ke pusat penahanan untuk sementara waktu sambil menunggu keputusan akhir hakim Kang Bu-young. Jika hakim memutuskan menangkap Park, dia akan menjadi mantan presiden ketiga yang ditangkap atas kasus korupsi di negara dengan perekonomian terbesar ke empat di Asia.

Park dituduh sejumlah pelanggaran seperti penyuapan, membocorkan rahasia negara, dan penyalahgunaan kekuasaan dalam skandal tersebut.

Meski park selama ini membantah segala tudingan itu, jaksa telah lama menetapkan Park sebagai kaki tangan Choi dan membantunya menekan sejumlah konglomerat Korsel, termasuk Samsung Group, untuk menggelontorkan dana jutaan dolar bagi dua yayasan pribadi sahabatnya itu.

Sejauh ini, jaksa telah mengajukan setidaknya 120 ribu halaman dokumen kepada pengadilan yang berisikan tuntutan bagi Park. Jaksa penuntut menganggap, akan bertentangan dengan prinsip keadilan jika surat penahanan park tak kunjung diterbitkan.

Sementara Choi sebagai tokoh pusat dalam skandal ini, telah lebih dulu ditahan atas dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan memanfaatkan kedekataannya dengan mantan orang nomor satu Korsel itu sejak November lalu.