Kisah Perempuan Tuna Netra Mengais Rupiah di Malam Hari

Editor : Endhy
Seorang pria membeli krupuk dagangan Syamsidar, perempuan disabilitas (tuna netra) di Jembatan Hertasning.
Seorang pria membeli krupuk dagangan Syamsidar, perempuan disabilitas (tuna netra) di Jembatan Hertasning.

Online24, Makassar – Namanya Syamsidar, bulan Mei mendatang ia genap berusia 37 tahun. Disabilitas (Tuna Netra) bukan alasan baginya untuk tidak mencari nafkah. Ia bahkan memilih untuk bekerja membanting tulang, mengais rupiah di malam hari.

Ketakutan akan dunia malam yang kejam ditengah kondisi dirinya sebagai penyandang tuna netra selalu membuatnya was-was, saat harus berdiam diri ditempat dimana ia menunggu seorang pembeli yang menyukai aneka macam kerupuk, seperti kerupuk jagung marni dan kerupuk pisang yang dijualnya.

“Kita mau bagaimana lagi, kalau kita menjual siang lebih banyak tidak lakunya,” singkatnya

Syamsidar mengaku, selama setahun berjualan kerupuk di Jembatan Pertama, Jalan Hertasning, Kecamatan Rappocini Makassar, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar (tindakan kejahatan) dari masyarakat.

Meski demikian, tak jarang Syamsidar kerap kali ditipu oleh pembeli yang tidak jujur. Ada diantara mereka yang mengambil barang dan membayar tidak sesuai harga. Ada pula yang mengaku membayar dengan nominal uang yang cukup besar untuk mendapat kembalian dari Syamsidar, namun ternyata uang tersebut tidak sebesar yang disebutkan, membuat hati Syamsidar sedikit tersayat akan sikap orang-orang yang malah memanfaatkan keterbatasannya.

“Sedih kalau ingat peristiwa yang dulu. Pernah ada pembeli, dia membeli dua bungkus dua berukuran kecil dan satu berukuran besar yang harus dibayar Rp 20 ribu tapi dia malah membayar Rp 2 ribu, dan saya baru tahu setelah uang tersebut saya perlihatkan kepada langganan bentor saya,” ungkap Syamaidar.

Warga Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa tersebut nyaris setiap hari berjualan sejak pukul 16.00 wita hingga pukul 22.00 wita. Syamsidar kadang pulang masih menyisahkan beberapa bungkus barang dagangan miliknya. Dari hasil dagangan tersebut, ia hanya mendapat upah sebesar Rp 2 ribu per bungkus untuk kerupuk berukuran kecil seharga Rp 5 ribu, dan upah sebesar Rp 3 ribu per bungkus jika menjual kerupuk berukuran besar dengan harga Rp 10 ribu.

“Saya biasanya sekali keluar itu kalau cepat biasa bawa banyak, tapi kalau agak malam baru barangnya diantar biasanya hanya 20 bungkus, itupun kadang tidak habis,” lanjut Syamsidar.

Perjuangan Syamsidar mencari nafkah, tidak lain untuk menghidupi kebutuhan keluarga kecilnya. Enam tahun menjalin hiruk pikuk berumah tangga, Syamsidar pernah mengalami keguguran saat usia kandungannya baru sekitar dua bulan di tahun pertama pernikahannya, dan hingga saat ini belum dikaruniai seorang anak. Meski begitu, Syamsidar mengaku hidup bahagia dengan suami yang ternyata juga memiliki keterbatasan dalam penglihatan.

Selain berjualan kerupuk, kadang kala Syamsidar juga membuka jasa pijat untuk kaum wanita untuk membatu kebutuhan hidup.

“Kadang juga buka jasa pijat kalau ada perempuan yang mau dipijat saya dijemput, tapi tidak buka panti pijat, seadanya saja,” sebutnya.

Syamsidar diketahui mengalami kebutaan sejak ia berusia 3 tahun, pasca ia menderita sakit cacar selama sebulan. Ia pun mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab yang membuatnya saat ini mengalami kebutaan.

Kepada pemerintah Syamsidar tak minta banyak, sebagai salah satu penyandang tuna netra dihari besar kartini, ia hanya berharap agar diberikan modal dan ruang untuk bisa membuat usaha sendiri.