Ruko Dibongkar Preman, Oknum Polres Pelabuhan Dinilai Lakukan Pembiaran

Reporter :
Editor : Fahmi

Online24, Makassar – H. Umrah, pemilik sebuah ruko berlantai 3 di Jalan Butung, nomor 48 Kelurahan Butung, Kecamatan Wajo, Makassar, mengaku kecewa dengan sikap pembiaran yang dilakukan pihak Polres Pelabuhan Makassar.

Pasalnya kata Umrah, preman suruhan dari pihak Bahar dan Siti Safia yang mengklaim kepemilikan bangunan tersebut, dibiarkan melakukan pembongkaran sebanyak tiga kali, hingga rumahnya rata dengan tanah tanpa ada tindakan apapun dari Polres Pelabuhan.

“Dari awal saya sudah menyurat resmi, minta pengamanan langsung segera. Saya rasa oknum di Polres Pelabuhan tidak memberikan pelayanan sesuai dengan simbol kepolisian,” beber Umrah, di bilangan Jalan AP Pettarani Makassar, Jumat (21/04/2017) kemarin.

Bahkan kata dia, pada saat pembongkaran tahap kedua, Kanit Reskrim Polres Pelabuhan mendatangi lokasi namun hanya jadi penonton dan tak melakukan tindakan apa-apa.

“Inilah yang saya sesalkan. Tak ada satupun dari pembongkar yang di amankan, sampai saat ini hanya diberikan surat undangan istimewa untuk mengkonfirmasi, tidak ada undangan selanjutnya,” sesalnya.

Ia mengatakan tanah tersebut adalah miliknya, karena telah membeli secara resmi kepada pemilik pertama yang telah menempati tanah tersebut selama 74 tahun.

“Yang jelas bahwa tanah itu milik saya. Artinya pemilik tanah pertama H Syahrun telah menempati, menguasai, memiliki sudah 76 tahun, nanti haknya beralih setelah menjual kepada saya,” ujarnya.

Ia menceritakan penyerobotan dan pembongkaran paksa rumahnya dalam selang waktu sekitar 1 setengah bulan. Awal pembongkaran ini dilakukan secara bertahap sejak 25 November 2016.

“Saya sedang menjual karpet, lalu datang Daeng Talli dan kawan-kawan, itu preman suruhan Bahar. Datang peringatkan saya kalau saya tidak tinggalkan tempat dan keluarkan jualan saya akan bongkar bangunan itu, ternyata setelah dua hari setelah saya terima peringatan itu dia bongkar betul,” sambungnya.

Ia melanjutkan pada tahun 2013, pihak Bahar yang mengklaim ahli waris dari rumah tersebut menggugat ke pengadilan. Namun, pihak pengadilan menolak tuntutan tersebut dengan alasan tuntutan tersebut salah gugatan.

“Artinya begini objek tetap punya saya, di lain sisi seorang menggugat artinya dia merasa punya hak, tapi kan di tolak jadi tanah dan bangunan jelas itu punya saya,” tandasnya.

 

[fbcomments]