Bertemu Menteri Pemberdayaan Perempuan, Ini Isi Hati Perempuan Makassar

Editor : Asri Muhammad
Menteri Pemberdayaa Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Yombise (tengah) saat berkunjung di di Jalan Sukaria 5, Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakkukkang, Makassar, Minggu (23/4/2017).
Menteri Pemberdayaa Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Yombise (tengah) saat berkunjung di di Jalan Sukaria 5, Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakkukkang, Makassar, Minggu (23/4/2017).

Online24, Makassar – Rasa bangga tidak mampu ditutupi masyarakat Makassar khususnya kaum perempuan, saat diberi kesempatan untuk bertemu dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Yohana Yembise.

Berbagai celotehan diungkapkan para perempuan Makassar saat berada di depan Mentri PPPA RI, mulai dari permasalahan kekerasan dalam rumah tangga, persoalan kenakalan yang melibatkan anak dibawah umur, sampai pada bagaimana mendampingi anak yang menjadi korban kasus kekerasan seksual.

Seperti yang dilontarkan seorang ibu rumah tangga bernama Surti, saat Yohana Yembise mengunjungi PAUD TAS/KB Rusunawa Panambungan, Binaan Yayasan Hadji Kalla, Kelurahan Panambungan, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Minggu (23/4/2017) kemarin.

Surti mengaku, seringkali dipukul oleh suaminya setiap kali pulang ke rumah. Tindakan kekerasan tersebut dialaminya lantaran, saat pulang ke rumah Surti tak menyiapkan makanan.

“Kerja kita cuma buruh cuci karena tidak ada makanan atau karena ada masalah sedikit suami saya biasa memukul. Saat ini suami saya pergi, nanti pulang ke rumah kalau uangnya sudah habis,” curhat Surti.

Menanggapi permasalahn tersebut, Yohana Yembise menyarankan agar Surti segera melapor ke DPPPA baik dilingkup Pemerintah Kota maupun Provinsi.

“Laporkan ibu, kita punya undang-undang untuk melindungi kaum perempuan dari segala bentuk tindakan kriminal. Kalau ada masalah segera laporkan,” kata Yohana.

Tidak hanya itu, salah satu perempuan di Jalan Sukaria 5, Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakkukang, Makassar mengaku kewalahan mengurus keponakannya yang saat ini sudah yatim piatu. Ia bahkan mengatakan beberapa kali melakukan pemukulan lantaran geram dengan sikap keponakan yang terbilang nakal.

Mendengar hal itu, Yohana mengatakan kepada wanita tersebut untuk tidak sesekali melakukan tindak kekerasan terhadap Meskipun, sang anak yang melakukan kesalahan.

“Jangan ibu, kalau tindakan itu menimbulkan rasa sakit, memar, atau pada rasa trauma sang anak, ibu bisa dihukum. Karena kita punya UU perlindungan anak,” ujarnya.

Menurutnya, segala persoalan terkait perempuan dan anak berawal dari pendidikan dilingkup keluarga. Orang tua harus diberikan pengetahuan secara dini cara menangani kenakalan yang terjadi pada anak.

Tidak hanya itu, pemerintah juga harus memberikan tempat bermain/ruang publik untuk anak agar terhindar dari perilaku kriminal seperti narkoba, ngelem, dan mengonsumsi daftar obat G.

“Intinya ada di keluarga, tapi kami dari kementrian kami akan mendampingi daerah yang rentan dengan kajahatan tersebut,” tutupnya.