Bom Bunuh Diri Dekat Kedubes AS di Afganistan Tewaskan 7 Orang

Editor : Endhy

Online24, Kabul – Sebuah ledakan bom bunuh diri yang terjadi tidak jauh dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Afganistan mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia.

“Sekitar pukul 07.55 pagi (waktu setempat), ledakan bom bunuh diri menghantam Distrik 9 di Kabul,” tutur Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan Najib Danish, Rabu (3/5/2017).

“Ledakan tersebut menewaskan setidaknya tujuh orang dan melukai banyak warga lainnya,” kata Danish.

Danish menambahkan, pihaknya tengah menginvestigasi apa yang menjadi target ledakan. Namun menurutnya, saat ledakan terjadi ada konvoi pasukan asing yang melintas.

Saksi mata dan foto-foto yang tersebar di sosial media menunjukkan bahwa pasukan asing menggunakan kendaraan lapis baja. Seorang anggota keamanan menyatakan bahwa ledakan terjadi saat mobil sedan Toyota Corolla meledak saat konvoi melintas.

Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab dalam insiden ini. Sementara ledakan tersebut terjadi usai Taliban bersumpah melakukan serangan ofensif di musim semi dengan target pasukan internasional.

Serangan ofensif tahunan itu menjadi tanda ‘musim tempur’ dari Taliban. Meskipun sebelum musim tersebut, Taliban terus melakukan serangan terhadap pasukan pemerintah.

James Mattis yang merupakan Menteri Pertahanan Afganistan, saat mengunjungi Kabul, April lalu menyatakan bahwa Amerika Serikat tengah mengkaji strategi baru di Afganistan. Ini termasuk untuk pasukan asing dan pasukan lokal.

Akan tetapi, Mattis tidak akan terpengaruh dengan imbauan dari Komandan NATO di Afganistan, Jenderal John Nicholson, untuk menambah beberapa ribu pasukan ke negara konflik itu. Menurut Johnson penambahan perlu dilakukan untuk memecah kebuntuan melawan militan.

Sementara itu, konflik di Afganistan merupakan konflik terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat. Sejak 2001, Amerika Serikat bersama NATO melakukan invasi ke Afghanistan dan melengserkan kekuasaan Taliban yang saat itu menolak menyerahkan Osama bin Laden, menyusul serangan 9/11 di Amerika.

Saat ini pasukan Amerika Serikat yang berada di Afghanistan mencapai 8.400 personel dan sekitar 5.000 pasukan lain berasal dari sekutu NATO.

Menurut laporan PBB, Kabul merupakan provinsi di Afghanistan di mana korban tewas dari warga sipil mencapai angka tertinggi selama semester pertama 2017. PBB mendesak setiap pihak untuk mengambil langkah agar warga sipil Afghanistan tidak menjadi korban.