Hendak Menyusup ke Malaysia, Belasan Warga Rohingya Ditahan

Editor : Endhy

Online24, Kuala Lumpur – Otoritas Bangladesh menahan lebih dari 12 orang warga Rohingya, Myanmar. Diantaranya terdapat dua orang yang dituduh mencoba menyelundupkan mereka secara ilegal ke Malaysia dengan menggunakan kapal.

Rabu (10/5/2017), dua orang warga Banglades didakwa melakukan pelanggaran penyelundupan manusia karena diduga mengatur perjalanan rombongan tersebut ke Malaysia.

Kepala Kepolisian Teknaf, Mainuddin Khan menjelaskan bahwa kejadian ini merupakan kasus pertama dalam dua tahun terakhir, di mana para imigran berusaha melakukan perjalanan dengan kapal.

“Kami menahan 19 warga Myanmar dari sebuah rumah di Teknaf pada hari Selasa, saat mereka berkumpul di sana untuk perjalanan kapal ke Malaysia,” tutur Khan.

“Mereka bilang mereka membayar 125 dollar Amerika Serikat untuk perjalanan ini,” sambungnya.

Selama ini, puluhan ribu orang Rohingya dari Myanmar dan imigran Bangladesh yang mencari pekerjaan telah melakukan perjalanan berbahaya melintasi Teluk Benggala menuju negara-negara yang relatif makmur, seperti Malaysia dan Thailand.

Akan tetapi, sejak tahun 2015, ribuan pengungsi Rohingya yang menggunakan kapal mulai dibekukan dan ditinggalkan negara-negara Asia Tenggara.

Keadaan ini memicu krisis regional dan tindakan keras terhadap orang-orang yang melakukan penyelundupan dan perdagangan manusia.

“Upaya terbaru untuk kembali menggunakan rute yang dulu populer ini adalah kasus pertama yang diketahui,” kata Khan.

Pemimpin Rohingya yang berbasis di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh mengatakan bahwa perjalanan perahu telah berhenti setelah pembekuan pada tahun 2015 lalu. Dijelaskan pula bahwa banyak pengungsi sekarang mencoba rute baru ke wilayah lain, termasuk Timur Tengah.

“Karena orang-orang sangat ingin pergi, para pedagang sekarang bersiap untuk mengeksploitasi mereka,” tutur pemimpin komunitas Rohingya Mirza Ghalib.

Sementara itu, selama berpuluh-puluh tahun, ratusan ribu warga Muslim Rohingya melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar yang mayoritas warganya beragama Buddha.

Warga Rohingya pun berlindung di Kota Cox’s Bazar, Ukhia, dan Teknaf di tenggara Bangladesh.

Sejak bulan Oktober lalu, jumlah mereka meningkat saat terjadi tindakan brutal oleh tentara Myanmar di negara bagian Rakhine bagian barat. Hal ini mengakibatkan 70.000 orang melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh.

Sementara kamp-kamp yang penuh sesak dan kotor menjadi “pintu masuk” bagi para pedagang manusia yang menawarkan jalan keluar.

Di salah satu kamp pengungsi Rohingya, Abu Zafar menyatakan bahwa pengungsi yang ditangkap oleh polisi yang berusaha mencapai Malaysia telah mengalami kemiskinan, kelaparan, dan ujian kesabaran yang paling sulit.

“Mereka mencoba untuk bermigrasi ke Malaysia untuk masa depan yang lebih baik, ini adalah situasi yang harus dilakukan atau kematian menanti mereka,” tuturnya.

Upaya pedagang mulai terorganisasi dan diaktifkan lagi, mereka adalah kelompok campuran orang Bangladesh dan Rohingya.