Pemerintah Berhak Ambil Alih Stadion AMM dari YOSS

Editor : Lucky
Diskusi soal Stadion Andi Mattalatta
Online24, Makassar – Sudah menjadi rahasia umum jika Kota Makassar sebagai satu dari lima kota besar di Indonesia tapi jauh tertinggal soal keberadaan sarana dan prasarana olahraga. Terutama keberadaan stadion yang representatif.
Satu-satunya stadion yang ada yakni Stadion Andi Mattalatta Mattoanging (AMM). Itu pun sudah tidak layak karena lapuk di makan usia dan tidak mampu menampung animo masyarakat yang begitu besar untuk menyaksikan langsung  tim kebanggaan mereka PSM Makassar bertanding.
Mantan Sekertaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulsel, Prof Zaenuddin Taha, mengatakan, seluruh peninggalan venue PON IV tahun 1957 termasuk stadion AMM berhak kembali diambil alih KONI, karena Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS) selaku pengelola berada di bawah naungan KONI.
Penyerahan pengelolaan sarana dan prasarana itu sendiri dilakukan Januari 1985 oleh Wakil Ketua KONI Sulsel, Arsyad kepada Ketua Dewan Pendiri YOSS, Andi Mattalatta yang juga menjabat Ketua KONI saat itu.
Adapun sarana dan prasarana tersebut yakni Stadion AMM dan Stadion Renang di Kompleks Stadion Mattoanging; lapangan bola basket, volli, dan tennis di Karebosi; Stadion Pacuan Kuda di Parangtambung; Lapangan tembak Panaikang; Gedung Yayasan Stadion di Jalan Hati Mulia; dan Lapangan Tennis di Jalan Lamaddukelleng.
“Seluruh venue peninggalan PON IV itu milik masyarakat Sulsel, masyarakat diwakili pemda dan pemda menyerahkan ke DORI. DORI kepada KONI dan kemudian menyerahkan kepada YOSS. Jadi secara yuridis formal merupakan tanggung jawab KONI. Sehingga YOSS bertanggung jawab kepada KONI,” ujarnya saat menghadiri diskusi publik “Stadion Mattoanging Milik Siapa?” di Cetengan Coffee House, Makassar, Selasa (23/5/2017).
“Kalau mau gugat YOSS suruh KONI batalkan surat keputusan yang dikeluarkan waktu itu. Cuman saat ini persoalannya karena ada UU yayasan yang baru. Tapi yayasan tidak boleh digunakan oleh satu badan saja (YOSS), yayasan itu milik masyarakat,” tegasnya.
Hingga saat ini, pengelola YOSS masih dipegang pewarisnya dan telah berbadan hukum sesuai Undang Undang yang berlaku.
Namun faktanya, selama berada di tangan YOSS, kondisi asset pemerintah ini malah tak terurus dan memprihatinkan. Stadion AMM sendiri terakhir kali direnovasi saat PSM menjadi penyelenggara Champion Asia tahun 2001.
Ketua YOSS, Andi Karim Beso beralasan penyebab hal tersebut karena tidak adanya dana dari pemerintah, sementara untuk melakukan perbaikan dan renovasi butuh biaya besar. Hal ini juga membuat pihaknya mengenakan biaya besar untuk penggunaan asset-asset tersebut yang sebenarnya milik pemerintah dan tidak boleh dikomersialkan.
“Pemda tidak pernah memberi perhatian kepada asset-asset ini. Tidak ada bantuan dana untuk perbaikan. Kami juga butuh uang untuk membayar pekerja yang memelihara stadion AMM,” katanya.
Pernyataan ini kemudian dibantah anggota Komisi C DPRD Sulsel, Amrin Toputiri. Ia menegaskan bahwa asset pemerintah tidak boleh dikomersialkan dan Pemprov Sulsel sesuai aturan memang tidak bisa memberi bantuan dana perbaikan asset kepada YOSS.
“Asset pemprov itu tidak boleh dikomersialisasi seperti gedung PWI. Sesuai aturan, pemprov juga tidak bisa membantu kalau ada yayasan yang mengelola asset itu,” bebernya.
Ia juga menyesalkan selama ini YOSS tak pernah melaporkan pertanggung jawaban pengelolaan seluruh aset milik pemerintah itu kepada KONI.? “Mestinya YOSS bertanggung jawab ke KONI, harus ada laporan, tapi selama ini tidak ada,” timpalnya.
Ketua Forum Bersama Wartawan Olahraga (Forbes), Sri Syahril akan menindaklanjuti hasil diskusi tersebut agar asset pemerintah tidak lagi dipergunakan untuk kepentingan pribadi. “Kami akan bersurat ke DPRD Sulsel, Gubernur dan badan pengelola asset Pemprov Sulsel agar ini kembali ke tangan pemerintah,” tandasnya.
Diskusi ini turut dihadiri Kadispora Sulsel, Sri Endang Sukarsih, pemerhati olahraga dan juga mantan pemain PSM, Sumirlan dan Syamsuddin Umar, Sekertaris KONI Sulsel, Addien, perwakilan suporter PSM Makassar, dan wartawan olahraga di Makassar.(*)