Filipina Selatan Memanas, WNI Disandera Kelompok Abu Sayyaf

Editor : Endhy

Online24, Mindanao – Keadaan yang terjadi di Filipina Selatan mendadak mencekam. Pertempuran yang terjadi antara kelompok militan melawan militer pecah di Marawi, Pulau Mindanao.

Peristiwa pertempuran tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah Indonesia dikarenakan beberapa WNI yang masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf, berada di Filipina Selatan.

Merespons kabar tersebut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal menyebutkan bahwa sandera asal Tanah Air atau WNI di Mindanao tidak ada yang menjadi korban.

“Kondisi di Mindanao secara umum normal. Pertempuran terkonsentrasi di sekitar Marawi. Marawi bukan daerah konsentrasi WNI,” kata Iqbal, Rabu (24/5/2017).

“Martial Law hanya diberlakukan di Mindanao. Sejak beberapa bulan lalu KJRI Davao sudah mengeluarkan seruan kepada WNI di Fililipina Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap situasi keamanan. Seruan tersebut belum dicabut,” sambungnya.

Terkait dengan kondisi para sandera, Iqbal menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia tetap teguh pada pendiriannya: para sandera harus segera bebas.

“Sejauh ini 7 sandera dalam keadaan baik. Komunikasi dan upaya pembebasan terus berlangsung. Harapan kita status martial law di Mindanao ini tidak mempengaruhi kondisi para sandera WNI,” jelasnya.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer di Marawi dan seluruh Pulau Mindanao.

Menurut informasi media lokal setempat, Duterte mempersingkat kunjungan resminya ke Rusia akibat bentrokan yang terjadi di Marawi.

Sementara itu, darurat militer akan berlaku di Mindanao, Filipina yang mayoritas berpenduduk muslim selama 60 hari. Menurut Juru Bicara Presiden, Ernesto Abella, status itu diberlakukan untuk menekan kekerasan dan pemberontakan serta demi keamanan publik.

Bentrokan yang terjadi antara pasukan pemerintah dan kelompok militan Islam yang berbasis di Mindanao, Maute, bermula di Marawi, yakni kota dengan 200.000 penduduk.

Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana menyebutkan, dua tentara dan seorang polisi tewas dalam insiden tersebut.

Sementara, pihak berwenang menuduh Maute terlibat dalam pengeboman di kampung halaman Duterte, Davao, pada September 2016 yang menewaskan 14 orang.

Jangan Lewatkan Berita Terbaru lainnya
Ikuti Online24jam.com di social Media Kamu