Presiden Korut Perintahkan Produksi Massal Senjata Anti-Pesawat Tipe Baru

Editor : Endhy

Online24, Pyongyang – Presiden Korea Utara, Kim Jong-un mengawasi uji coba sistem senjata anti-pesawat tipe baru. Kim juga memerintahkan agar sistem tersebut diproduksi massal dan ditempatkan di seluruh negeri.

Minggu (28/5/2017), tidak disebutkan kapan uji coba dilakukan dan informasi detail lainnya. Akan tetapi, menurut informasi, Academy of National Science atau Akademi Ilmu Pertahanan Nasional yang membidani lahirnya sistem senjata anti-pesawat tersebut.

“Kim Jong-un menyaksikan uji coba tipe baru sistem senjata anti-pesawat yang diorganisir oleh Academy of National Science,” terang laporan media setempat.

“Sistem persenjataan yang kemampuan operasinya telah diverifikasi secara menyeluruh, harus diproduksi massal untuk ditempatkan di seluruh negeri. Sehingga merusak imajinasi liar musuh untuk menyerang dari udara,” tutur Kim.

Academy of National Science merupakan sebuah badan yang masuk daftar hitam karena diyakini tengah mengembangkan rudal dan senjata nuklir.

Ketika memantau uji coba sistem senjata anti-pesawat tipe baru, Kim didampingi oleh pejabat militer dan tiga tokoh yang memiliki peran vital dalam program pengembangan rudal dan nuklir Korea Utara.

Ketiga tokoh tersebut adalah Ri Pyong-chol, seorang mantan jenderal angkatan udara, Kim Jong-sik seorang ilmuwan roket, dan Jang Chang-ha, Kepala Akademi Ilmu Pertahanan Nasional.

Korea Utara diyakini telah mengembangkan berbagai sistem senjata pada tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya, sejak tahun lalu. Senjata yang dikembangkan termasuk rudal jarak jauh yang digadang-gadang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat.

Sementara itu, pekan lalu Pyongyang dikabarkan telah melakukan uji coba rudal jarak balistik jarak menengah. Korea Utara mengklaim berhasil melakukan uji coba rudal balistik jarak menengah tersebut. Meski demikian, keraguan datang dari para ahli dan pengamat di luar Korea Utara.

Negeri yang menutup diri itu selama ini tidak mengindahkan, baik sanksi PBB maupun sanksi unilateral atas program persenjataannya. Pyongyang bersikeras bahwa apa yang mereka lakukan merupakan hak untuk membela diri dan program tersebut dibutuhkan demi menghadapi kemungkinan agresi Amerika Serikat.

Disisi lain, Washington membantah kabar bahwa pihaknya akan menyerang Korea Utara.

Direktur Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat Vincent Stewart mengatakan bahwa, jika dibiarkan maka Korea Utara akan memiliki rudal bersenjata nuklir yang mampu menjangkau Amerika Serikat. Stewart sendiri tidak dapat memperkirakan kapan tepatnya, namun sejumlah ahli Barat percaya bahwa Pyongyang masih membutuh beberapa tahun lagi untuk mengembangkan senjata jenis tersebut.