Workshop Laws of Game, PSSI Keluhkan Intimidasi Terhadap Wasit

Reporter :
Editor : Fahmi
Head of Referee Departement PSSI, Ngadiman Asri (kedua kanan) memberikan penjelasan mengenai peraturan pertandingan kepada awak media saat Workshop Laws of Game yang diadakan oleh PSM Makassar di Hotel Grand Celino, Jalan Lanto Dg Pasewang, Makassar, Senin (5/6/2017).
Head of Referee Departement PSSI, Ngadiman Asri (kedua kanan) memberikan penjelasan mengenai peraturan pertandingan kepada awak media saat Workshop Laws of Game yang diadakan oleh PSM Makassar di Hotel Grand Celino, Jalan Lanto Dg Pasewang, Makassar, Senin (5/6/2017).

Online24, Makassar – Pemuncak klasemen sementara Liga 1, PSM Makassar menggelar workshop ‘Laws of Game’ untuk melengkapi lisensi Asian Football Confederation (AFC) ┬ádi Hotel Grand Celino, Jalan Lanto Dg Pasewang, Senin (5/6/2017) malam.

“Workshop ini untuk melengkapi lisensi AFC karena hal ini menjadi dasar yang harus diketahui termasuk media. Syarat dari lisensi itu ada poin-poinnya termasuk kegiatan ini,” kata Media Officer PSM, Andi Widya Syadzwina.

Tampil sebagai pemateri Kepala Departemen Wasit PSSI, Ngadiman Aziz dan perwakilan wasit liga, Muslimin yang menyampaikan peraturan baru FIFA yang mulai berlaku bulan Juni 2016 lalu.

Beberapa poin-poin penting Laws of Game yang mesti ditegakkan wasit di lapangan disampaikan kedua pemateri tersebut. Seperti peraturan terbaru tentang tendangan penalti tahun 2017 yang diterapkan di liga Indonesia, jenis-jenis pelanggaran hingga masalah jersey yang digunakan pemain dan wasit.

Ngadiman Aziz mengatakan pentingnya Laws of Game ditegakkan bagi wasit karena bukan hanya tim yang berkompetisi. “Wasit juga berkompetisi, mereka akan mendapat poin dan dirangking,” ujarnya.

Sementara itu, mewakili wasit Muslimin mengungkapkan jika di persebakbolaan Tanah Air masih kental terhadap intimidasi terhadap wasit. Ia juga menilai pandangan masyarakat terkait kepemimpinan wasit yang cenderung berpihak kepada tuan rumah itu tidak benar sepenuhnya.

“Masalah mengambil keputusan semua wasit berani. Cuman terkadang tidak diterima oleh official tim lawan. Pada laga Borneo FC vs Sriwijaya saya mengeluarkan 4 kartu kuning dan 1 kartu merah untuk tuan rumah di babak pertama.

“Saya diprotes hingga ke ruangan wasit. Penonton protes dan mengancam saya kalau tidak mengeluarkan kartu merah untuk lawan mereka tidak menjamin keselamatan saya. Sehingga saya memutuskan untuk minta diganti memimpin pertandingan itu,” ungkapnya.

Olehnya itu, Ngadiman berharap suporter atau penonton harus menyadari bahwa semua tim di lapangan berhak memenangkan pertandingan. Ia juga mengakui kekurangan Liga Indonesia yang belum memiliki reffere assesor.

“Di liga kita belum ada reffere assesor yang ditugaskan operator liga dan PSSI. Dia bertugas untuk melihat kepemimpinan wasit apakah memuaskan atau tidak. Meski begitu kita tetap mengevaluasi kenerja wasit melalui laporan klub yang dirugikan maupun rekaman pertandingan,” tandasnya.

 

[fbcomments]