Opini: Beringin “Musim Gugur”

Reporter :
Editor : ifan Ahmad

Saifuddin al Mughniy
Saifuddin al Mughniy

Online24, Makassar – Hampir semua orang tahu tentang pohon beringin, yakni pohon yang begitu besar, memiliki akar yang kokoh, ranting yang kuat, serta dedaunan yang begitu apik. Berbeda dengan bongsai yang hanya miniatur beringin, bongsai kalau ia tumbuh besar maka biasanya dipangkas oleh pemiliknya.

Dan kalau kita sering mendengar beringin, maka yang ada di kepala kita adalah tentang suatu partai politik, yakni Partai Golkar. Dulu hanya disebut sebagai Golongan kekaryaan, seiring dengan kemajuan demokrasi maka berubah menjadi Partai Golkar yang bersimbolkan pohon beringin. Partai Golkar dalam kesejarahannya telah mengalami berbagai dinamika kebangsaan dari orde lama, orde baru hingga orde reformasi.

Partai ini telah memberi pengaruh yang cukup kuat dalam kehidupan politik dan demokrasi dibangsa ini. Bahkan pernah tertuduh sebagai partai orde baru. Namun tuduhan itu berhasil dilewati dengan baik, hingga proses pemilu ke pemilu, Golkar selalu berada dirangking dua dan tiga besar suara di parlemen setelah PDIP dan Demokrat. Dinamika tak membuatnya kehilangan basis kepercayaan publik.

Di era demokrasi liberal-kapitalisme, suasana jejak politik dan demokrasi dihadapkan pada pilihan antara idealisme dan kebahagiaan menurut Aristoteles disebutnya sebagai “eudemonisme”. Sesungguhnya nikmat kebahagiaan ini yang juga pada akhirnya ditolak oleh Aristoteles, menurut puncak pengejaran kebahagiaan ada pada “politik dan filsafat”. Walau pada kenyataannya sedikit saja yang berfilsafat dan begitu banyak yang meleburkan dirinya dalam dunia politik.

Fenomena manusia berpolitik “mans by nature a political animals” kata Socrates 335 SM. Ini satu unsur yang menggerakkan naluri kekuasaan untuk sampai pada puncak kebahagiaan kekuasaan. Kalau hal demikian ditarik kedalam ranah politik “keterbukaan” saat ini, tentu korupsi dan penyelewengan kekuasaan sulit untuk dihindari, karena makna kebahagiaan kita letakkan pada aspek kekuasaan yang bisa jadi bermakna “siapa mengambil apa”.

Setnov adalah satu diantara banyak orang yang mengalani nasib yang sama pada kasus e-KTP yang merugikan uang negara Rp 2,3 Trilyun. Setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, maka sontak kondisi politik nasional berubah. Sebagai Ketua Partai Golkar dan plus selaku ketua DPR RI, ini sesungguhnya adalah tamparan keras bagi Partai Golkar dan parlemen. Adakah kepercayaan publik untuk masa mendatang ?

Karenanya, Setnov telah menjadikan Partai Beringin ini mengalami musim gugur, akankah beringin ini tetap kokoh?. Ataukah menjelma menjadi bongsai yang kecil. Tentu sangat diharapkan tangan dingin untuk beringin tetap tumbuh kokoh dan kuat dan memberi keteduhan bagi lingkungan sekitarnya. (*)

(Oleh: Saifuddin al Mughniy)