Manisnya Harga Garam, Petani di Pangkep Daftar Haji

Editor : ifan Ahmad

Petani garam di Kabupaten Pangkep
Petani garam di Kabupaten Pangkep

Online24, Pangkep – Tingginya harga Garam di pasaran beberapa pekan ini hingga 10 kali lipat, membuat para petambak garam yang berada di Kampung Bontonompo, Kelurahan Borimasunggu, Kecamatan Labbakkang, Kabupaten Pangkep keheranan. Mereka pun merasa jika ini merupakan mukjizat dari sang maha pencipta, pasalnya mereka benar benar di untungkan. Dengan harga garam yang dulunya dihargai 15 ribu rupiah perkarung kini mencapai 150 ribu perkarungnya. Tidak tanggung-tanggung keuntungannya saat panen kali ini mencapai Rp 300 juta untuk 3000 karung gabah yang berhasil terjual, hanya dalam waktu satu bulan saja.

Melonjaknya harga garam tersebut diakibatkan pada tahun lalu petani garam di wilayah Kecamatan Labbakkang dan sekitarnya gagal panen. Faktor lain adalah cuaca yang tidak menentu. Hujan yang seringkali turun menyebabkan petambak harus mengulang proses produksi. Akibatnya hasil panen para petambak yang dulu hanya ditumpuk di dalam gudang, petambak disini lebih menyebutnya lottong (gudang) berukuran 5×5 m yang terdapat dibawah rumah masing masing petambak.

Salah seorang petambak garam di kampung Bonto Nompo, Kelurahan Borimasunggu, H. Jala, menuturkan baginya panen garam tahun ini adalah suatu keberkahan yang sangat patut untuk di syukuri. Menurutnya panen garam tahun ini merupakan tahun dikabulkannya doa para petambak garam oleh sang maha pencipta. Dengan mata berkaca kaca tak henti hentinya ia mengucap syukur kepada Allah atas limpahan rezeki yang diberikan.

“Sangat bersyukur sekali pak, hampir semua petambak garam yang ada disini awalnya dikagetkan dengan kenaikan harga garam, yang menurut kami mustahil mencapai angka 150 ribu perkarungnya, sedangkan dulunya itu, garam-garam yang ada disini perkarungnya hanya 5 ribu bahkan harga tertingginya itu mencapai 50 ribu saja, kadang juga ketika kami habis panen garam, puluhan karung garam hanya ditumpuk di lottong (gudang) karena tak laku sama sekali,” jelasnya, Minggu (30/7/2017).

Lebih lanjut H. Jala mengatakan keuntungannya saat panen kali ini mencapai Rp300 juta untuk 3000 karung gabah yang berhasil terjual.

“Barusan selama buat garam bisa dapat panen sampai ratusan juta. Padahal dulu, kita hanya bisa dapat Rp20-Rp30juta setiap tahunnya. Sekarang, baru satu bulan, Alhamdulillah, sudah bisa dipakai untuk daftar haji. Mengolah garam di tambak itu tidaklah mudah sebab harus disertai kesabaran dan doa. Kunci keberhasilan panen garam terletak pada kesabaran. Karena proses pembuatan garam terbilang sulit. Sebab jika tiba-tiba hujan. Maka dipastikan hasilnya akan berkurang ataupun tidak ada sama sekali hasil yang didapat,” tambahnya.

Para petambak garam di Kecamatan Labbakkang ini bia dibilang kaya mendadak, dikarenakan musim haji hampir tiba, para petambak garam pun mengumpulkan hasil penjualan garam mereka dan lebih memilih mendaftarkan diri mereka untuk berangkat menunaikan ibadah haji, karena menurut mereka tahun ini merupakan tahun diberikannya mukjizat dengan melimpahnya hasil panen.

Sementara itu Muhtar, yang juga merupakan petambak dari Kelurahan Bori Masunggu juga melakukan hal serupa. Keuntungan hasil panen garamnya ia gunakan untuk daftar haji bagi anaknya.

“Saya sudah niatkan untuk daftar haji kalau sudah panen. Alhamdulillah panen kita sangat berlebihan.Doa dikabulkan, makanya kita pakai untuk daftar haji. Daripada membeli mobil, lebih baik digunakan untuk ibadah. Supaya lebih berkah lagi keuntungan garam,” jelasnya.

Selain itu, dikatakannya sekarang ini pembeli garam sangat meningkat. Ia pun dibuat kewalahan karena pasokan garam juga mulai berkurang. Apalagi cuaca juga tidak mendukung.

“Garam di gudang sudah berkurang. Di sekitar sini puluhan gudang garam yang dibuat petambak. Tetapi hanya tersisa satu atau dua gudang yang belum habis. Sisanya gudang-gudang itu kosong,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa, salah satu kunci suksesnya panen garam di daerahnya adalah karena keterlibatan Pemerintah Kabupaten Pangkep.

“Semenjak ada bantuan terpal dari pemerintah. Hasil garam juga jadi lebih banyak dan bagus-bagus hasilnya. Kualitas garam di Pangkep mulai diandalkan sejak kadar keasinan garam mencapai 89 persen ini berkat bantuan dari pemerintah melalu dinas kelautan dan perikanan Pangkep. Beberapa waktu yang lalu kami kembali menerima bantuan 50 meter terpal yang digunakan sebagai pelapis. Agar air laut tidak bercampur dengan tanah atau lumpur,” tutupnya.