Mekkah Diancam Rudal Saat Menjelang Musim Haji

Editor : Endhy

Kota Mekkah/hobbymiliter.com
Kota Mekkah/hobbymiliter.com

Online24 – Pasukan Arab Saudi mengatakan bahwa pemberontak Houthi dari Yaman telah menembakkan sebuah rudal balistik ke arah kota Mekah pada Kamis tengah malam (27/7). Namun, Arab Saudi menyebutkan mereka berhasil membelokkan rudal tersebut sehingga Mekah tetap aman.

Dikutip dari AFP, pasukan Arab Saudi mengatakan pihaknya berhasil melakukan intersepsi rudal kiriman pemberontak Houthi sejauh 69 km ke selatan kota Mekah. Mereka menuding itu adalah upaya kelompok pemberontak untuk menyebabkan kekacauan menjelang musim haji yang akan dimulai pada akhir Agustus.

Hingga saat ini pemberontak Houthi sendiri belum mengeluarkan pernyataan apapun terkait tudingan pasukan Arab Saudi tersebut. Media milik Houthi justru melaporkan adanya serangan rudal terhadap markas angkatan udara Arab Saudi yang lokasinya berada di dekat Mekah.

Menurut media tersebut, Houthi berhasil memporak-porandakan pangkalan angkatan udara King Fahad dengan menggunakan beberapa rudal jarak menengah-jauh. Sedangkan militer Arab Saudi membantah kabar tersebut dengan berkata bahwa lokasi mereka masih dalam kondisi aman.

Ini bukan pertama kalinya pemberontak Houthi di Yaman menargetkan kota suci Mekah. Pada Oktober 2016, mereka juga meluncurkan rudal jarak jauh mereka. Militer Arab Saudi berhasil membelokkan rudal itu ke arah 65 km dari Mekah. Kala itu, Houthi menyebut target mereka adalah bandara King Abdulaziz.

Kemudian, beberapa hari sebelum Donald Trump mengunjungi Arab Saudi, pemberontak Houthi juga meluncurkan rudalnya ke arah ibu kota Riyadh. Pemerintah mengatakan mereka sukses membelokkan rudal itu 200 km dari target awal.

Pemberontak Houthi sangat bermusuhan dengan Arab Saudi karena negara monarki itu melindungi dan mendukung Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Houthi sendiri menggulingkan Hadi, hingga akhirnya mendukung mantan diktator sebelum Hadi, yakni, Ali Abdullah Saleh.

Pemberontakan menyebabkan perang sipil di Yaman yang sudah berlangsung selama dua tahun. Sejak itu ada lebih dari 7.600 orang tewas dan 42.000 orang terluka. Sebagian besar disebabkan oleh serangan udara yang dilakukan oleh pasukan koalisi yang didukung oleh Arab Saudi.