Douglas Costa dan Federico Bernardeschi Tambah Kemewahan Lini Depan Juventus

Editor : Endhy

foto: gilabola.com
foto: gilabola.com

Online24 – Mengesampingkan masalah mental dan segala rumor soal konflik di ruang ganti, pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, punya alasan taktis yang masuk akal sebagai sebab timnya kalah telak dari Real Madrid di final Liga Champions musim lalu.

“Ketika kami mengalahkan Madrid dua musim sebelumnya, situasinya sungguh berbeda. Kami punya banyak opsi [di dalam skuat] dan kami bisa mengubah jalannya laga di paruh kedua. Musim ini [2016/17] kami menjalaninya dengan satu gaya bermain. Kemudian berubah dengan andalkan empat penyerang. Kami melakukan itu selama berbulan-bulan, karena memang tak ada [pemain] alternatif. Saya tak memperhitungkan cedera parah Marko Pjaca, Perannya sangat menentukan untuk mengubah laga, terutama di babak knock-out. Tidak memilikinya, sungguh membuat empat penyerang utama benar-benar menderita dan harus membayarnya di final,” ungkap Allegri, seperti dikutip Sky Sport Italia.

Musim lalu Juve memang memulai musim dengan formasi andalan 3-5-2, memaksimalkan potensi BBC di lini belakang. Namun skema lawas itu membuat permainan Si Nyonya Tua makin lama jadi makin pragamatis dan dinilai tak cocok untuk bertanding di Eropa.

Selain itu potensi beberapa pilar seperti Miralem Pjanic, Juan Cuadrado, hingga Mario Mandzukic tak tereksploitasi dengan baik. Allegri kemudian mengubahnya jadi 4-2-3-1, yang krusial dalam raihan Scudetto keenam beruntun, hat-trick Coppa Italia, dan menembus final Liga Champions. “Formasi ini membuat kami jadi terasa lebih Eropa,” tutur Leonardo Bonucci yang kini sudah hijrah ke AC Milan, pada Mediaset Premium.

Musim lalu Juve tak miliki alternatif di lini depan

Sayangnya perubahan ini diselimuti kesan dadakan. Skuat yang tersedia di awal musim, jadi sulit mengakomodasi kebutuhan taktik baru. Momentumnya pun terbilang tak tepat, karena terjadi di tengah bursa musim dingin, sehingga manajemen Juve tak punya waktu panjang untuk mengakomodir kebutuhan tersebut.

Terutama di lini depan. Berkomposisi satu penyerang utama yang didampingi dua winger dan satu gelandang serang yang bisa bertransisi jadi penyerang kedua, empat pemain yang tersedia untuk mengisi pos tersebut benar-benar dikuras habis selama paruh kedua musim oleh Allegri.

Gonzalo Higuain yang mengisi pos penyerang utama tak punya cadangan, seperti halnya Paulo Dybala yang jadi pendampingnya. Mario Mandzukic lakoni peran eksperimen sebagai winger kiri dan tak miliki pelapis. Sementara Juan Cuadrado di sisi kanan, hanya memiliki Dani Alves sebagai alternatif yang dipakasa bermain menyerang. Itulah mengapa Allegri menyebut kehadiran Pjaca amat krusial, karena dirinya bisa mengisi semua posisi yang dibutuhkan, kecuali sebagai penyerang utama.

Higuain, Dybala, Mandzukic, dan Cuadrado memang mampu tampil eksepsional. Namun fisik mereka juga memiliki batas dan seperti kata Allegri, segalanya harus dibayar saat final Liga Champions. Pelatih asal Livorno itu bahkan sempat membuat Stefano Sturaro yang aslinya gelandang perusak menjadi winger. Mario Lemina yang punya posisi natural sebagai gelandang pembagi bola, dipaksa melapis Dybala. Sementara Alves, seperti sudah disebutkan, jadi pelapis Cuadrado sehingga hadirkan lubang di pos kanan pertahanan.

sumber: goal.com