Hasil Evaluasi, 67,82% ASN Sinjai Tidak Sehat

Reporter :
Editor : ifan Ahmad
Laporan Dinas Kesehatan mengenai hasil evaluasi Pamer Sehat kepada Sekertaris Daerah Sinjai. (Foto: Humas Dinas Kesehatan Sinjai)
Laporan Dinas Kesehatan mengenai hasil evaluasi Pamer Sehat kepada Sekertaris Daerah Sinjai. (Foto: Humas Dinas Kesehatan Sinjai)

Online24, Sinjai – Pemeriksaan kesehatan bagi aparatur lingkup OPD dan Forkopimda Kabupaten Sinjai “Pamer Sehat” yang merupakan inovasi lanjutan proyek perubahan Latpim II yang dilakukan selama lima pekan telah berakhir dan telah dirilis hasilnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sinjai, Andi Suryanto Asapa, mengatakan hasil evaluasi Pamer Sehat ini telah dilaporkan ke Sekretaris Daerah Sinjai sebagai mentor ataupun sebagai pemerintah daerah dan juga merupakan penyampaian ke BPJS Kesehatan cabang Bone serta lintas sektor yang terkait dalam forum kemitraan dan komunikasi.

Suryanto menjelaskan, hasil evaluasi pemeriksaan Pamer Sehat ini dari total jumlah ASN dan Non ASN yang ada, yang sehat hanya berjumlah 32,18%, sedangkan yang tidak sehat sebanyak 67,82%.

“Hasilnya dari total ASN dan Non ASN lebih banyak yang tidak sehat dari pada yang sehat. Yang sehat sebanyak 32,18%, sedangkan yang tidak sehat sebanyak 67,82%,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Sinjai, Akhriani SKM M.Kes, yang juga Ketua Tim Pamer Sehat ini mengatakan rencana tindak lanjut dari kegiatan ini adalah pembentukan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) pada 36 instansi OPD dan Forkopimda.

“Jadwal kelanjutan pemeriksaan akan dilakukan sekali sebulan dengan didampingi dari 4 petugas kesehatan puskesmas, yakni Puskesmas Balangnipa, Samataring, Panaikang dan Kampala,” ujarnya.

Humas Dinas Kesehatan Sinjai, Syamsul Ahmad, menambahkan inovasi Pamer Sehat 2017 adalah langkah cemerlang dan adaptif yang telah dilakukan oleh Dinas Keaehatan sebagai upaya pelayanan kesehatan dasar yang langsung diberikan ditempat kerja.

“Tidak ada alasan lagi bagi aparatur baik OPD maupun Forkopimda tidak memeriksakan kesehatan, sebab harus disadari dengan tugas sebagai aparatur negara sangat banyak resiko kesehatan yang rentan mengalami stres yang mengancam kesehatan,” tambahnya.