PASIKOLA, Transportasi Alternatif Anak Sekolah di Makassar

Editor : ifan Ahmad

Mobil Pasikola melaju di jalan raya
Mobil Pasikola melaju di jalan raya

Online24, Makassar – Berawal dari lokakarya design thinking bagaimana menciptakan transportasi publik yang merakyat, Dinas Perhubungan Kota Makassar bersama UNDP, Pulse Lab dan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) menggagas Pasikola atau Petepete Anak Sekolah pada November 2016 lalu.

Menurut Program Manajer, Mansyur Rahim, ide Pasikola berangkat dari ketiadaan akses transportasi publik yang secara khusus menjangkau sekolah-sekolah. Saat ini ada 17 rute Pete-pete di Makassar yang umumnya hanya melalui jalur arteri dan tidak menjangkau jalur lokal atau pemukiman dan sekolah-sekolah. Sekolah– sekolah favorit yang ada di Makassar umumnya berada di ‘kota lama’, semisal di sekitaran kawasan Pecinan (Kompleks SDN Sudirman, SMPN Neg 2, SMPN 5 dan SMPN 6) dan kawasan Cendrawasih (SMPN 1, SMPN 3, SMAN 2,SMAN 8 dll).

“Ketiadaan akses transportasi publik pada sekolah ini mendorong peningkatan penggunaan kendaraan pribadi orang tua siswa ketika mengantar dan menjemput anak mereka. Titik penumpukan kendaraan terjadi di lokasi sekolah. Dimana bentor, petepete dan kendaraan pribadi mobil dan motor berhenti-menurunkan dan menaikkan penumpang. Penggunaan kendaraan pribadi ini kemudian mengakibatkan munculnya titik-titik kemacetan baru, utamanya di area sekolah-sekolah. Tak sedikit pula orang tua siswa menyediakan kendaraan pribadi bagi anaknya, termasuk anak usia dibawah umur yaitu pelajar sekolah menengah pertama (SMP),” urainya.

Hal ini memicu pada jumlah kecelakaan pada pengguna kendaraan usia di bawah umur. Satuan Lalu Lintas Polrestabes Makassar melansir data kecelakaan hingga Agustus 2011 telah mencapai sekitar 1.600 kasus. Korban kebanyakan dari usia produktif, 75 persen kecelakaan dialami pengendara sepeda motor dengan korban kecelakaan luka maupun meninggal, 46 persen berusia produktif berumur 11-30 tahun.

Hal lain yang mendasari lahirnya ide Pasikola adalah semakin tersisihnya keberadaan petepete konnvensional yang pernah mengalami masa kejayaan pada era awal 2000an. Saat ini ada sekira 2000an armada petepete yang beredar di jalan-jalan kota Makassar. Keberadaannya kian tersisih oleh kendaraan pribadi.

“Tim Pasikola juga belajar langsung pada anggota Yayasan Ikatan Supir Antar Jemput (YIKSAJ) Kompleks SDN Mangkura dan pengelola angkutan Sekolah Islam Athirah. Di kedua sekolah ini, tim belajar bagaimana kedua pengelola jasa angkutan sekolah ini menjalankan jasa antar – jemput anak sekolah. Beberapa pembelajaran penting dari keduanya kemudian diadopsi oleh Pasikola, semisal bagaimana menentukan durasi dan rute penjemputan,” paparnya.

Pada saat melakukan kunjungan ke kompleks SDN Mangkura, tim menemui beberapa orang tua siswa. Ibu Endang, salah satu orang tua siswa, mengatakan ia membutuhkan dan sangat mendukung jika ada layanan antar jemput siswa semacam Pasikola. Ia mengaku akan sangat terbantu dengan adanya layanan ini mengingat ia berdomisili di kawasan Barombong, salah satu kawasan baru yang mengalami pertumbuhan pesat, yang tidak memiliki akses transportasi publik. “Saya memiliki anak yang saat ini duduk di kelas V, harus menunggui anak hingga pukul 5 sore setiap hari. Saya usulkan angkutan Pasikola menyediakan air minum di dalam mobil,” ujarnya.

Siswa SMP membaca bahan bacaan yang disediakan didalam mobil Pasikola

Dari sisi siswa, kami menjumpai Cindy, siswi SMPN 5 yang berdomisili Jl Irian ini menggunakan pete-pete untuk ke sekolahnya yang berada di Jl. Sumba. Rumahnya berada di lorong, sehingga perlu berjalan kaki sekira lima menit keluar ke Jl. Irian (dekat Toko Jameson) dan menunggu pete-pete. “Saat pulang sekolah, harus berjalan kaki lebih jauh ke jalan utama bila ingin naik pete-pete satu kali ke rumah. Bisa saja menggunakan bentor tapi itu berarti akan ada pengeluaran ekstra yang tidak sedikit,” tuturnya.

Guna mematangkan ide dan konsep Pasikola, tim yang didukung penuh oleh Organda, Dishub Kota Makassar, UN Pulse Lab, UNDP dan BaKTI juga mengadakan lokakarya bersama pengemudi membahas fasilitas tambahan berdasarkan kebutuhan yang muncul sebagai hasil riset dan wawancara calon pengguna, dalam hal ini siswa dan orang tua siswa. Lokakarya ini juga membahas bagaimana menentukan rute dan durasi penjemputan serta tata laksana antar jemput siswa nantinya.

Tahapan selanjutnya adalah pelatihan bagi pengemudi Pasikola untuk menyiapkan pengemudi yang lebih professional, santun dan beretika serta memahami kondisi psikologis anak usia SD dan SMP. Pelatihan yang berlangsung 29 – 31 Maret ini terbagi atas dua tahapan yaitu: In House Training dan On Job Training.

Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung dalam proses layanan antar jemput siswa. Usai pelatihan pengemudi, tahapan berikutnya adalah modifikasi mobil yaitu pengerjaan bodi mobil, penambahan fasilitas berupa teralis besi, sistem audio, fasilitas air minum, tempat sampah, kotak P3K, tabung pemadam kebakaran, dan rak perpustakaan mini. Proses ini memakan waktu sebulan lebih.

“Modifikasi mobil juga termasuk melakukan branding pada bodi mobil dengan tehnik airbrush. Tahap akhir dari persiapan Pasikola adalah masa piloting atau ujicoba. Piloting ini rencananya akan berlangsung hingga September 2017 dengan membaginya ke dalam tiga sesi,” pungkasnya. (*)

Driver mobil Pasikola mencatat siswa yang turun