Terlibat Kasus ‘Perjokian’, Oknum Mahasiswa Unhas Terancam Dipecat

Reporter :
Editor : ifan Ahmad

Kapolsek Rappocini, Kompol Kodrat Muhammad Hartanto
Kapolsek Rappocini, Kompol Kodrat Muhammad Hartanto

Online24, Makassar – Asirin Tangko (22), mahasiswa semester IX Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin terancam diberhentikan secara tidak hormat, jika dalam proses hukum dirinya terbukti bersalah.

Hal tersebut diungkapkan Humas Universitas Hasanuddin, Dr Ishak Rahman, saat dikonfirmasi via telepon seluler, Kamis (10/8/2017).

Rahman menyebutkan saat ini pihaknya tidak bisa memberikan sanksi kepada Asirin, sebab kasus yang menyeret Asirin merupakan persoalan pribadi.

“Kita belum bisa memberikan sanksi kepada dia (Asirin), inikan persoalan pribadi dan tidak terjadi di lingkup kampus Unhas,” singkatnya.

Hanya saja, kata Rahman, jika calon dokter tersebut terbukti bersalah, pihaknya akan mengeluarkan surat DO. Tidak hanya itu, saat ini Asirin sudah menginjak semester IX, padahal batas akhir kuliah hanya sampai 14 semester, atau 7 tahun waktu kuliah.

“Kita ikut pada proses hukum. Kita lihat, kalau terbukti bersalah kan pasti akan ditahan, dan kalau dia ditahan akan berdampak pada proses akademiknya. Padahal kita di kampus punya aturan kalau mahasiswa tidak ikut perkuliahan selama dua semester berturut-turut itu bisa diberikan sanksi DO,” lanjutnya.

Diketahui, Asirin digiring ke Polsek Rappocini setelah dirinya kedapatan hendak menggantikan salah satu peserta ujian saat mengikuti tes tertulis masuk fakultas kedokteran di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Saat itu, Asirin menggantikan Muhammad Riza Arif Vitaria, alumni SMAN 1 Kolaka dengan imbalan Rp 10 juta jika berhasil meloloskan Riza.

Imbalan tersebut bahkan diketahui diberikan oleh salah satu oknum PNS Pemerintah Kota Makassar, berinisial AS, yang tidak lain adalah alumni Fakultas Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah.

Penyamaran Asirin terbongkar setelah panitia ujian memeriksa kartu peserta sebelum mengikuti ujian tertulis. Akibatnya, panitia menemukan perbedaan antara wajah yang mengikuti ujian dengan foto yang terpampang di kartu ujian. Asirin kemudian diamankan oleh pihak panitia sebelum akhirnya diserahkan ke Polsek Rappocini.

Sementara itu, secara terpisah, Kapolsek Rappocini, Kompol Kodrat Muhammad Hartanto, mengaku pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut.

“Kita masih menyelidiki kasus tersebut. Sampai saat ini sudah ada tiga saksi dari internal kampus Unismuh yang kita periksa,” singkat Kodrat.

Atas perbuatannya, Asirin dijerat Pasal 263 KUHP Tentang Pamalsuan Dokumen Junto Pasal 53 KUHP, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.