Imbas Penutupan Tambang di Gowa, Pengrajin Batu Merah Menjerit

Reporter :
Editor : ifan Ahmad
Produksi pencetak batu merah
Produksi pencetak batu merah

Online24, Gowa – Sikap tegas tak pandang bulu yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Gowa menutup aktivitas tambang liar khususnya di Kecamatan Bontonompo dan Bontonompo selatan mulai dirasakan dampak sosialnya oleh para pencetak batu merah dan para sopir truk.

“Dilematis memang penutupan tambang ini, disisi lain pencetak batu merah tidak lagi berproduksi karena material batu merah diambil dari penambang selama beberapa tahun terakhir ini, tentu dengan tidak adanya tambang otomatis batu merah akan menghilang,” ujar Faizal Daeng Ngentang, salah seorang pengusaha batu merah di Desa Katangka, Kecamatan Bontonompo, Minggu (13/8/2017).

Belum lagi, para pemilik mobil truk yang membeli mobil dengan sistem kredit, tentu dengan tertutupnya tambang di seluruh Kabupaten Gowa, khususnya di Bontonompo, mobil truk akan terparkir begitu saja tanpa ada muatan.

“Ibarat dua mata belati, tambang ini mematikan dan menghidupkan masyarakat menengah ke bawah, tentu para pemilik mobil menggunakan cicilan terancam mobilnya akan ditarik, karena tidak adanya lagi muatan material, inilah mungkin yang harus dipahami pemerintah sebelum rakyat menjerit kelaparan,” tandas Faizal.

Terpisah seorang penambang liar bernama Daeng Sese meminta agar pemerintah tidak sepihak menilai keberadaan tambang ilegal di Kecamatan Bontonompo.

“Asap dapur dirumah mengepul karena hasil tambang, kalaupun tempat makan kami ditutupi, pemerintah harus memberi solusi, paling tidak mempermudah pengurusan terbitnya izin tambang,” tandas Daeng Sese.