Lahir di Malaysia, Gadis Ini Jadi Jukir Demi Kelangsungan Hidup

Reporter :
Editor : ifan Ahmad
Ramlah, gadis remaja jadi jukir di Pasar Lakessi, Kota Parepare
Ramlah, gadis remaja jadi jukir di Pasar Lakessi, Kota Parepare

Online24, Parepare – Ramlah, yang masih usianya 16 tahun kelahiran Malaysia, 14 April 2003 silam harus bekerja jadi juru parkir demi membayar sewa kost dan kebutuhan hidupnya bersama ibu kandungnya, Junati.

Ramlah anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan alamrhum Rasyid dengan Juniati. Ramlah kini tinggal berdua dengan ibunya di sebuah kosan di jalan Kebun Sayur, Kecamatan Soreang, Kota Parepare. Sedangkan kakaknya, Norcahaya tidak lagi bersama karena sudah bersuami (berkeluarga).

Ramlah, mengikuti kakaknya Nurcahaya kerja jadi juru parkir di Pasar Lakessi, Kecamatan Soreang. Setiap harinya harus bangun subuh untuk mengatur kendaraan yang parkir di wilayah kerjanya. Ia baru pulang sekitar pukul 9.30 wita setelah tidak ada lagi kendaraan yang parkir di wilayah kerjanya.

Ramlah, sejak usia 4 tahun ditinggalkan oleh ayahnya saat berada di Malaysia. Disana dulunya tinggal, setelah ayahnya meninggal baru pulang ke Kota Parepare, karena di negara orang kehidupan sangat keras sehingga tak mampu bertahan hidup. Maka Ramlah pulang bersama ibu dan kakaknya, Nurcahaya (saat itu masih belum bersuami, red) ke Parepare untuk melanjutkan hidup.

Juniati, ibu Ramlah sehari-hai bekerja sebagai pemangkas rambut keliling, dan kerja apa saja yang bisa menghasilkan uang halal, sehingga melihat orangtuanya kesusahan mencari uang maka, aa ikut kakaknya parkir di Pasar Lakessi.

Uang yang didapatkan sebesar Rp.15.000 (limas ribu rupiah) perhari. Uang itu ditabungnya dicelengan, untuk kebutuhan hidup dan untuk acara ulang tahunnya yang ke-17 tahun yang akan dirayakan tahun depan 2018. ”Saya simpan untuk kebutuhan hidup dan juga untuk acara ulang tahun saya tahun depan,” katanya lugu.

Ia tidak bersekolah karena sering bertentangan dengan gurunya. Selain itu ia juga tidak sanggup lagi karena biaya sekolah tidak ada. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 4 SDN 23 kebun sayur. ”Saya malas ke sekolah karena sering bertengkar ibu guru,” katanya.

Namun beranjak usia 16, atau kelas 1 SMA Ramlah sempat lanjut sekolah tapi karena kehidupan semakin keras, dan sulit mendapatkan uang maka sejak SD kelas 4 sudah tidak sekolah lagi. ”Kalau sekolah SMA pasti banyak biaya, saya lebih baik kerja juru parkir yang penting halal dan bisa makan bersama ibu saya,” tuturnya.

Uang kost yang harus dibayar perbulanya Rp. 250 ribu, belum termasuk biaya hidup bersama ibunya yang kerjanya tidak menentu. ”Baru satu minggu kerja ikut juru parkir bersama kakak, itupun kakak saya belum bisa membebaskan saya sendiri menjadi juru parkir, masih ikutan sama kakak saya,” jelasnya.

Ditambahkannya, Nurcahaya, bahwa adiknya tidak malu bekerja karena ia butuh uang karena usianya sudah menjelang dewasa, tahun depan sudah usianya 17 tahun, ia bekerja rajin dan tekun membantu dirinya. ”Adik saya tidak malu, yang penting halal, karena ia butuh uang karena usianya sudah remaja,” tuturnya.

Lanjut, Nurcahaya, dirinya sudah jadi jukir sejak kurang lebih 3 tahun lalu karena mengikuti suami yang juga juru parkir. Sedangkan adiknya mau bekerja, maka ia ikut juga kerja jadi juru parkir atas kemauannya sendiri. ”Jadi kami tidak memaksa kerja tapi justru ia minta mau kerja bantu saya menjadi juru parkir, karena ingin punya uang,” ungkapnya.