Begini Pola Penipuan Travel Umroh PT Arca Perkasa

Reporter :
Editor : Lucky

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani (tengah) memberikan keterangan mengenai kasus penipuan travel haji dan umroh di Mapolrestabes Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Rabu (13/9/2017).
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani (tengah) memberikan keterangan mengenai kasus penipuan travel haji dan umroh di Mapolrestabes Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Rabu (13/9/2017).

Online24, Makassar – Polda Sulsel menetapkan status tersangka terhadap Muhammad Arsyad (26) dan Ariadi (29) terkait penipuan yang dilakukan travel umroh PT Arca Perkasa.

Dalam aksinya, pelaku Arsyad yang seolah-olah menjadi Direktur di PT Arca Perkasa mengatakan bahwa mekanisme yang digunakan perusahaannya untuk melakukan aksinya adalah menajemen subsidi silang.

Dimana, katanya, subsidi silang digunakan untuk menutupi anggaran keberangkatan calon jamaah yang melakukan pendaftaran gelombang pertama, melalui promo yang ditawarkan kepada orang lain yang menjadi bakal calon jamaah di gelombang kedua.

“Sehingga di balik layar mungkin ada kerugian-kerugian yang kami alami yang mengharuskan kami melakukan subsidi silang. Jamaah yang pertama mendaftar bisa berangkat sambil menunggu promo tahun depan,” ungkapnya.

Pada promo tahap kedua, jumlah jamaah yang mendaftar membludak. Sayangnya, hal ini tidak berlanjut pada promo tahap ketiga dan selanjutnya. Padahal, promo tahap ketiga ini rencananya untuk menutupi biaya keberangkatan pendaftara di tahap kedua.

Akibatnya keuangan menajemen tidak seimbang, bahkan mengalami kerugian. “Akhirnya kita menyerahkan. Daripada harus meneruskan dan meninggalkan korban yang lebih banyak lagi,” ungkap pelaku Muhammad Arsyad.

Katanya, kendala yang mereka alami karena mematok harga di bawah standar dan jauh lebih murah, itu menjadi kesalahan menajemennya. Pasalnya, promo umroh murah pada tahun 2013 itu mulai menjamur.

Sedangkan untuk pemberangkatan, kata Arsyad, calon jamaah akan diikutkan dengan travel yang diajaknya kerjasama yang telah memiliki izin dari Kementerian Agama.

“Kami menggunakan promo awal dengan menempel perusahaan yang sudah berizin untuk memberangkatkan jamaah yang sebelumnya. Kami memasang promo awal Rp 14 juta per orang, sedangkan yang dibayar ke perusahaan yang kami tempat menempel itu Rp 22 juta per orang, jelas kami mengalami kerugian,” ungkapnya.

Arsyad menambahkan bahwa perusahaannya mulai goyang pada tahun 2014 sampai 2015 dengan jumlah korban 600 jamaah yang batal diberangkatkan.(*)