Polda Sulsel Segel Pabrik Pupuk Ilegal di Maros

Reporter :
Editor : Lucky

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, saat merilis penyegelan pabrik pupuk ilegal di Maros, Kamis (14/9/2017)
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, saat merilis penyegelan pabrik pupuk ilegal di Maros, Kamis (14/9/2017)

Online24, Maros – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menyegel sebuah pabrik pupuk di Dusun Tamangesang, Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Selasa (12/9/2017) lalu.

Pabrik tersebut ditengarai sebagai tempat produksi pupuk pembenah tanah yang tidak memiliki ijin edar (ilegal) dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

Padahal, dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70 Tahun 2011 Tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pupuk Pembenah Tanah bahwa formula pupuk tersebut yang akan diproduksi dan diedarkan untuk keperluan sektor pertanian harus memenuhi standar mutu, terjamin efektivitasnya, diberi lebel kemasan, dan didaftar oleh Kementerian Pertanian.

Tidak hanya itu, berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Budidaya Tanaman bahwa pupuk yang beredar di dalam wilayah negara Republik Indonesia wajib memenuhi standar mutu dan terjamin aktivitasnya serta diberi label.

“Pabrik ini tidak memiliki ijin edar dari Kementrian Pertanian RI sehingga tidak terjamin mutu dan efektivitasnya dan dapat menimbulkan kerugian pada para petani. Pabrik ini juga tidak memiliki SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan),” singkat Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, saat menggelar rilis di Dusun Tamangesang, Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Kamis (14/9/2017).

Penemuan pabrik tersebut berawal dari ditemukannya pupuk yang tidak memiliki ijin edar merk ABD beredar di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/9/2017) lalu.

Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa pupuk tersebut diproduksi di Kabupaten Maros. Satreskrim Polres Maros bersama Subdit I Industri Perdagangan Ditreskrimsus Polda Sulsel kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil menemukan pabrik milik pria berinisial KN (48), Selasa (12/9/2017) kemarin.

Dicky melanjutkan, pupuk tersebut diproduksi menggunakan bahan baku dari batu kapur yang dihaluskan kemudian dikemas dalam karung seberat 50 kilogram untuk dijual ke petani di berbagai daerah seperti Pangkep, Luwu Utara, Mangkutana, Enrekang, Luwu Timur, dan Belopa. Pupuk ini dijual dengan kisaran harga dari Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu.

Dari hasil penemuan tersebut, penyidik menyita barang bukti berupa 130 ton pupuk siap edar dari pabrik ya g terletak di Dusun Tamangesang, Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

“Ada 2.600 karung isi 50 kilogram yang kita amankan dari pabrik ini. Dari pengakuan KN, dia punya dua pabrik satu lagi ada di Poros Kariango, Desa Tenrigengkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, dan di pabrik itu kita menyita 75 ton pupuk dengan kemasan yang sama,” tutup Dicky.(*)