Masih Belum Lengkap, Kejari Kembalikan Berkas Perkara Pembobolan Brankas PDAM

Editor : ifan Ahmad
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Endi Sutendi (tengah) didampingi Dirkrimum Polda Suksel, Kombes Pol Erwin Zatma (kiri) dan Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Anwar Hasan (kanan) memberikan penjelasan mengenai kasus pembobolan brangkas PDAM Kota Makassar saat konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Jalan Ahmad Yani, Makassar, Selasa (1/8/2017).
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Endi Sutendi (tengah) didampingi Dirkrimum Polda Suksel, Kombes Pol Erwin Zatma (kiri) dan Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Anwar Hasan (kanan) memberikan penjelasan mengenai kasus pembobolan brangkas PDAM Kota Makassar saat konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Jalan Ahmad Yani, Makassar, Selasa (1/8/2017).

Online24, Makassar – Berkas perkara pembobolan brankas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar dikabarkan dalam waktu dekat akan dikembalikan pihak kejaksaan ke penyidik Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar.

Sebab, berkas yang dikirim penyidik sepekan lalu dinilai belum lengkap oleh jaksa penuntut umum Kejari Makassar.

“Berkas sudah kita terima dan sudah kita pelajari. Kita akan segera kembalikan tinggal tunggu petunjuk karena ada beberapa berkas yang belum cukup,” kata Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Makassar, Andi Usama Harun, Kamis (14/9/2017).

Diberitakan sebelumnya, kasus pembobolan brankas PDAM Makassar yang terjadi pada akhir Juli lalu menetapkan empat orang tersangka. Mereka adalah Muhammad Irwan alias Iwan (34), Tuanya (42), Asri Narang (28) dan Tamajaya (28).

Dalam aksinya mereka mengambil uang sebesar Rp 1,2 miliar yang ada didalam brankas yang terletak di ruang bendahara. Menurut pengakuannya, Iwan yang bertindak sebagai otak pelaku mendapatkan uang sebesar Rp 280 juta, jumlah yang sama dengan Tuanaya, warga asal Maluku Ambon. Sementara itu, Tamajaya dan Asri Narang masing-masing mendapat upah sebesar Rp 150 juta.

Beberapa waktu lalu, penyidik juga menyita satu unit mobil mewah merk Honda HRV senilai Rp 292 juta dari Iwan. Meski bukan atas nama tersangka Iwan, namun mobil tersebut ditengarai dibeli dari uang pembobolan brankas.