Kampung Emas Enrekang Darurat Narkoba

Reporter :
Editor : ifan Ahmad

Online24, Enrekang – Meski sikap tegas melawan Narkoba telah ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Enrekang, namun tak dapat dipungkiri Enrekang masih saja terus menjadi salah satu sasaran empuk para pengedar narkoba.

Satuan Narkoba Polres Enrekang yang tahun ini hanya di target 6 kasus kini masih paruh tahun justru sudah menangani 9 laporan polisi dengan 12 tersangka narkoba. Itu menunjukkan Sat Narkoba telah melampaui target dalam penanganan kasus ini.

Meski Enrekang bukanlah sebagai pemasok ataupun bandar narkoba, melainkan hanya sebagai sasaran penjualan karena Enrekang berada diantara segitiga emas pemasok narkoba yaitu Pinrang, Parepare dan Sidrap.

Terkait dengan isu diatas, beberapa bulan yang lain Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang telah melaunching Kampung Emas bebas narkoba. Tujuannya adalah melakukan tindakan penekanan, pencegahan dan penanganan kasus narkoba secara medis.

Bahkan Dinkes akan mendirikan pojok konseling adiksi di setiap desa untuk melakukan sosialisasi san penanganan terhadap korban narkoba.

“Kita akan terus bergerak untuk melakukan gerakan pencegahan dan penanganan bagi para korban narkoba. Sekarang kita sudah melakukan sosialisasi kepada semua elemen baik tokoh Agama, tokoh masyarakat, pendidik, LSM dan anak – anak sekolah,” Kata Kadis Kesehatan Enrekang, Dr. Marwan Ganoko.

Hanya saja menurutnya, minimnya anggaran membuat pihaknya saat ini masih belum begitu maksimal melakukan sosialisasi.

“Kita tunggu perubahan anggaran baru kegiatan ini massif lagi. Tapi kita tetap bergerak sekarang, hanya saja kita tunggu ada anggaran baru akan bergerak maksimal,” kata Marwan.

Saat ini Polres Enrekang menyimpulkan jika Enrekang berada pada darurat peredaran narkoba. Alasannya karena sepanjang tahun 2017, kasus barang haram ini telah melampaui target yang diharuskan, yakni minimal 6  kasus narkoba. Namun hingga bulan September, justru kasus ini sudah mencapai 100 persen.

Kasus terbaru adalah penangkapan dua warga Parepare yang sedang mengantarkan paket pesanan ke Enrekang yakni Purnomo dan Cahyono.

Meski semakin tak terkendali, namun Pemerintah Kabupaten Enrekang bersama Kepolisian dan instansi terkait terus saja melakukan gerakan sebagai bentuk permusuhan terhadap barang yang merusak masa depan generasi muda dan masyarakat Enrekang.