Harga Lods Kemahalan, Pedagang Pasar Sentral Enggan Pindah

Reporter :
Editor : ifan Ahmad

Pedagang Pasar Sentral masih bertahan di lods yang lama, Minggu (17/9/2017). (Foto:Ade/Online24)
Pedagang Pasar Sentral masih bertahan di lods yang lama, Minggu (17/9/2017). (Foto:Ade/Online24)

Online24, Makassar – Para pedagang Pasar Sentral ternyata belum mau menempati Gedung New Makassar Mall yang telah disiapkan oleh pemerintah, padahal tempat tersebut digadang-gadang akan menjadi ikon pusat perbelanjaan baru di Kota Makassar.

Pedagang mengeluhkan pihak PT Melati Tunggal Inti Raya (MTIR), karena menurutnya PT MTIR melanggar perjanjian awalnya yakni, sebesar 42.158.000 rupiah per meternya, yang harus mereka bayar untuk lods yang ditempati.

Pedagang yang mendapat subsidi ini diketahui hanya pedagang yang berstatus pedagang lama, dan memiliki sertifikat kepemilikan lods di Pasar Sentral jauh hari, sebelum terjadi peristiwa kebakaran Pasar Sentral 4 tahun lalu.

H. Ibnu Hajar (68), salah seorang pedagang baju sekolah anak di Pasar Sentral, mengaku selalu dibujuk oleh pihak PT MTIR untuk pindah. Namun, harga yang tidak sesuai yang menyebabkan dia harus bertahan di lods lamanya, yang berada dekat New Makassar Mall.

“Saya selalu dibujuk oleh pengelola New Makassar Mall, untuk naik dan mengangkat daganganku masuk ke dalam. Tapi mau mi bagaimana lagi, PT Melati masih belum menandai SK harga yang ditetapkan sebelumnya sebesar 42 juta rupiah. Jadi saya belum ambil,” ungkapnya kepada online24jam.com, Minggu (17/9/2017).

Ia juga mengatakan bahwa harga yang diminta oleh PT MTIR tidak wajar. Karena tempat yang disewakan tidak sesuai dengan kebutuhannya sebagai pedagang baju sekolah.

“Karena tidak masuk akal juga kalau bayar mahal sekali, baru tempatnya kecil. Kita juga rugi, karena untuk barang saja mau dimasukkan itu sempit, dan tidak muat semua barangku untuk lods ukuran 1 meter persegi,” ucapnya.

Senada dengan H. Ibnu, Andi Ruslan (42) salah seorang pedagang pakaian jadi juga berpendapat kalau PT MTIR mematok harga terlalu tinggi. Padahal untuk persoalan harga, pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah menyepakati harga yang ditetapkan.

“Sebelumnya kan sudah disepakati mi harga yang ditetapkan pemerintah. Karena ada SK yang ditandatangi Wapres RI Jusuf Kalla, Gubernur Sulsel Syahrul YL, Walikota Makassar Ramdhan Pomanto. Tapi PT Melati ji yang tidak mau tandatangan karena masih ngotot dengan harga 100 juta rupiah lebih. Itu yang buat kita sulit,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini PT MTIR sudah dalam keadaan terdesak setelah Polrestabes mengeluarkan surat edaran tentang pelarangan pembongkaran lods yang masih ditempati pedagang yang belum pindah.

“Tapi makin siksa sekarang PT Melati. Karena Kapolrestabes Makassar sudah mengeluarkan surat untuk tidak melakukan pembongkaran bangunan lods diluar New Mall Sentral, selama PT Melati belum acc dan menandatangi SK persetujuan harga yang diberikan untuk pedagang,” bebernya.

Selain itu, kata Andi Ruslan, pihak PT MTIR juga suatu saat pasti akan menandatangi SK penetapan harga karena butuhkan uang pengganti. Karena sampai saat ini pedagang yang menempati lods New Makassar Mall jumlahnya jauh lebih sedikit, dibanding pedagang yang masih menetap di lods lamanya.

“Kalau pun mau ditempati banyak ji juga embel-embel lainnya. Belum pengurusan suratnya, ambil kartu untuk lods, stor sertifikat, jadi sama ji. Habis-habis 100 jutaan rupiah jeki juga. Karena saya tahu PT MTIR juga butuh uang, karena bangunan ini tidak menggunakan dana pribadinya, tapi ini kredit ji juga,” ucapnya.

Tidak hanya itu, ia berharap dengan adanya polemik terkait harga yang belum disepakati PT MTIR. Pemerintah mampu membuka ruang untuk para pedagang dipertemukan dengan pihak PT MTIR agar harga yang disepakati nantinya, tidak merugikan pihak mana pun.