Pidato di PBB, JK Rohingya, Konflik Israel-Palestina, sampai Pemanasan Global

Editor : Lucky

Online24, New York – Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-72 di New York, Amerika Serikat, Kamis (21/9/2017) siang atau Jumat (22/9/2017) dini hari Wita.

Sejumlah hal tentang kemunusiaan menjadi topi pidato Jusuf Kalla. Seperti konflik bersenjata yang berkepanjangan di Rakhine, Myanmar, yang diduga berbuntut terjadinya aksi genosida terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Selain, itu, JK juga menyoroti tentang konflik yang terjadi Palestina.

Jusuf Kalla mengawali pidatonya dengan mengucapkan selama Tahun Baru bagi umat Islam yang merayakan Tahun Baru Islam 1439 Hijriah.

Jusuf Kalla mengatakan bahwa manusia hidup dalam dunia yang sama, namun banyak sekali perbedannya. Dunia saat ini jauh dari kata adil.

“Di antara bangsa-bangsa di dunia kini ini, ada peperangan, kelaparan, kemiskinan ekstrim, dan buta huruf. Kedamaian dan kemakmuran yang adil sangat jauh,” katanya.

Karena itu, kata JK, Indonesia menyambut baik tema tahun ini yaitu “Focusing on People: Striving for Peace and a Decent Life for All on a Sustainable Planet”.

“Yang pertama harus digarisbawahi bahwa perdamaian tidak pernah diberikan. Itu harus dikembangkan dan dipupuk. Kita harus bekerja, untuk menciptakan ekosistem perdamaian global yang stabilitas. Pengalaman Indonesia di ASEAN, menunjukkan bahwa membangun semacam itu ekosistem sangat mendasar. Ini sangat fundamental bagi pembangunan ekonomi. Ini sangat mendasar bagi kemakmuran rakyat,” kata JK.

Indonesia sangat percaya, kata JK, mengembangkan ekosistem atau komunitas global perdamaian dan stabilitas bisa dilakukan

Pentingnya komunitas internasional terlibat aktif menyelesaikan konlik dan menangani para pengungsinya. Salah satunya adalah masyarakat untuk menyelesaikan, salah satu konflik terpanjang yang belum terselesaikan, yaitu konflik Palestina-Israel.

“Tahun ini, menandai setengah abad pendudukan ilegal Palestina. Kita tidak akan menyerah. Palestina berada di jantung kebijakan luar negeri Indonesia. Kami, Indonesia, akan terus mendukung Palestina. Setelah 50 tahun kebuntuan, kita butuh pendekatan baru. Pendekatan berkelanjutan dan inovatif yang bisa menghasilkan solusi kedua negara,” ucapnya.

Lanjut JK, sinergi antara mempertahankan agenda perdamaian dan pembangunan memerlukan sebuah masyarakat yang adil, inklusif, dan sepenuhnya menghormati hak asasi manusia. Seharusnya tidak ada lagi krisis kemanusiaan buatan manusia di dunia ini.

“Indonesia juga berbagi kepedulian masyarakat internasional terhadap apa yang terjadi di Rakhine, Myanmar. Kami telah mengusulkan formula 4+1 kepada pemerintah Myanmar, menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai yang utama,” kata JK.

Jusuf Kalla juga menyoroti tentang perubahan iklim yang ekstrem akhir-akhir ini. Meskipun skeptis, kata JK, perubahan iklim itu nyata. Itu terjadi pada kita saat ini. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan merasakan perubahan pola cuaca dengan naiknya permukaan air laut.

“Ini akan mempengaruhi keberlanjutan perkembangan kita, bahkan kelangsungan hidup kita. Oleh karena itu, Indonesia berkomitmen penuh terhadap Perjanjian Paris. Kami mengajak semua negara, untuk melaksanakan kewajiban mereka di bawah Perjanjian Paris itu,” katanya.

“Seiring dengan tantangan global menjadi semakin kompleks, terbukti bahwa unilateralisme bukanlah solusi yang berkelanjutan. Dunia membutuhkan kemitraan dan kerja sama yang kuat, kemitraan global sejati,” ucap JK.

“Indonesia telah lama percaya akan kemitraan global. Sesuai dengan slogan nasional kami yaitu “bersatu kita teguh cerai kita runtuh” (united we stand divided we fall),” katanya.

“Indonesia selalu berkeinginan untuk selalu berkontribusi dalam kemitraan global, untuk keamanan dan perdamaian global, dan untuk kemakmuran global,” katanya.

JK juga mengatakan bahwa Indonesia telah mempresentasikan pencalonannya untuk keanggotaan tidak tetap Dewan Keamanan untuk tahun 2019 tahun sampai 2020. “Kami membutuhkan dukungan Anda untuk pencalonan kami (Indonesia),” ucapnya.(*)