Remaja 15 Tahun Meninggal Dunia Akibat Dianiayai Oknum Polisi

Editor : Asri Muhammad

Online24, Makassar – Syahrul B (15), warga Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, diduga meninggal dunia akibat dianiaya oknum polisi.

Siswa kelas X SMKN? 2 Makassar ini menghembuskan nafas terakhirnya di RS Bhayangkara, Jalan Mappaodang, Kecamatan Tamalate, Makassar, Rabu (27/9/2017) lalu.

Namun, kematian remaja kelahiran 4 Maret 2002 tersebut dinilai tidak wajar oleh pihak keluarga. Pasalnya, sehari sebelum meninggal dunia, korban sempat mengaku menjadi korban kekerasan yang dilakukan oknum polisi beberapa waktu lalu. Pasalnya, saat memandikan jasad korban, pihak keluarga melihat biji sakar korban membengkak. Padahal sebelumnya, korban tidak pernah mengeluhkan sakit pada bagian tersebut.

“Sehari sebelumnya meninggal itu dia (almarhum) bilang kalau sudah dipukul sama polisi, na bilang ditendangka sampai jatuh, baru sudah itu ditarik lagi bajuku, tapi dia tidak bilang lebih jelasnya bagaimana,” kata ibu korban, Mantasia Dg Kenang (40), saat ditemui di rumahnya di Jalan Bontoduri V, Kecamatan Tamalate, Makassar, Jumat (13/10/2017).

Sebelumnya, korban bahkan sempat menjalani perawatan di salah satu Puskesmas, namun korban tak kunjung sembuh sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara, Sabtu (23/9/2017) lalu.

Mantasia melanjutkan, pasca insiden tersebut korban sempat mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Namun, saat itu kondisinya sudah dalam keadaan tidak fit dikarenakan paha korban yang memar akibat insiden malam itu.

Sementara itu, Muhammad Enal (16), salah satu rekan korban yang malam itu sempat menyaksikan insiden tersebut, membeberkan jika saat itu korban didatangi oleh dua orang yang dikenal sebagai anggota Binmas dan Banpol, keduanya diketahui berinisial M dan A.

Ena menyebutkan, saat itu dirinya sementara duduk-duduk tepat di sekitar Jalan Bontoduri VI sambil memainkan alat musik gitar, Rabu (13/9/2017) malam lalu. Namun, tiba-tiba datang dua orang dan memeriksa korban. Setelah diperiksa, ditemukan lem pada kantong sebelah kanan korban.

“Main gitar berdua sama almarhum, lalu datang itu polisi, pakai baju polisi. Dia (korban) diperiksa dan didapat lemnya di kantong sebelah kanan,” kata Enal.

Lanjut Enal, insiden pemukulan tersebut terjadi setelah keduanya berniat untuk membawa korban ke rumahnya. Akan tetapi, korban malah memberikan pernyataan berbeda-beda, sebelum akhirnya korban mengaku jika ia tinggal tidak jauh dari lokasi tersebut.

“Di foto dulu baru ditanya dimana rumahnya (korban), tapi ini temanku menyangkal terus, pertama dia bilang Mamoa tapi pas mau dibawa kesana dia bilang lagi Manuruki, mau dibawa ke Manuruki langsung melawan baru dia bilang di ujung ji rumahku (Bontoduri V), langsung mi dipukul disitu, ditendangki tapi tidak saya lihat sampai selesai kah dipanggil ka sama mamaku,” jelas Enal.

Pihak keluarga menyayangkan insiden tersebut, untuk itu pihaknya sempat melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Makassar beberapa hari yang lalu. Namun belum diterima, laporan orang tua korban baru akan diterima jika mereka (keluarga korban) bisa membawa saksi yang melihat kejadian nahas tersebut.

“Pernah melapor ke Polrestabes Makassar, tapi disuruh pulang, katanya bawa dulu saksi baru kesini lagi. Banyak ji lihatki tapi tidak ada berani jadi saksi,” ujar Basineng (47), ayah korban.

Basineng bahkan mengaku, saat insiden tersebut kedua oknum tersebut membawa korban pulang ke rumahnya, tetapi tidak menjelaskan telah melakukan tindak kekerasan terhadap korban.

“Na antar ji pulang, dia mengaku anggota binmas. Tidak na bilang kalau sudah di pukul. Dia (oknum) cuma bilang kalau anakku ini didapat lem di kantongnya, dan mau di bawa ke kantor, tapi saya bilang tidak usahmi nanti saya yang ajar,” tutupnya.