SMP Negeri 9 Parepare Kembali Disegel Ahli Waris Lahan

Reporter :
Editor : ifan Ahmad

Akibat penyegelan, ratusan peserta didik bersama pululuhan guru tertahan di depan pintu sekolah.
Akibat penyegelan, ratusan peserta didik bersama pululuhan guru tertahan di depan pintu sekolah.

Online24, Parepare – Belum lama ini, kejadian penyegelan sekolah sempat terjadi di SDN 11 dan SMAN 4. Kini, terjadi lagi peristiwa yang sama. Untuk keempat kalinya, SMPN 9 ditutup lantaran diklaim milik seorang warga Ichank yang merupakan ahli waris dari lahan yang ditempati SMPN 9 sekarang ini. Berdasarkan pantauan, penyegelan keempat kalinya ini dilakukan pada Minggu sore kemarin, (15/10/2017).

Dari keterangan saksi setempat, Anwar, membeberkan ahli waris yakni Ichank melakukan penyegelan dengan menggunakan las untuk menutup gerbang besi sekolah. Kemudian memasang baliho yang bertuliskan putusan pengadilan.

“Di pagar tertempel spanduk warna merah, disitu tertera lokasi tanah milik ahli waris I Potong Binti Lamaroneng. Berdasarkan keputusan pengadilan Negeri Parepare perdata No:51/1952. Keputusan pengadilan tinggi No.77/1963/PT/Pdt Ujungpandang dan Keputusan Mahkamah Agung No: 660K /SIP/1987 Republik Indonesia,” beber Anwar.

Akibat penyegelan itu, Senin (16/10/2017) pagi, ratusan peserta didik bersama puluhan guru tertahan di depan pintu sekolah. Peserta didik baru bisa masuk ke sekolah sekitar pukul 08.00 Wita, setelah petugas dari kepolisian dan Satpol PP tiba di lokasi dan membuka paksa pagar tersebut menggunakan gulindra.

Pelaksana tugas (Plt) Satpol PP Parepare, Mukhlis, mengatakan tindakan penyegelan ini dilakukan secara sepihak. Selama tidak ada surat resmi dari pengadilan kata dia, pihaknya akan terus menjaga sekolah tersebut agar terus beraktifitas.

“Ini adalah tindakan dari orang yang tidak bertanggungjawab. Kita akan terus buka jika ahli waris yang mengklaim lahan ini ingin kembali menutup. Ini sudah ke empat kalinya sekolah ini ditutup oleh ahli waris tersebut,” jelasnya.

Lanjutnya, jika persoalannya ahli waris telah memenangkan perkara ini, kenapa ahli waris tidak meminta atau menyurat ke pengadilan untuk dilakukan penyegelan. Kenapa harus mengambil langkah sendiri.

“Jika betul ahli waris menang, kenapa tidak lapor ke polisi. Karena jika ahli waris sudah membuktikan dengan kekuatan hukum, maka saya yakin pemerintah dapat menerima keputusan itu,” ujarnya.

Sementara, Kepala SMP Negeri 9 Parepare, Kamaruddin, mengatakan pihaknya telah melaporkan masalah tersebut ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare dan Polres Parepare.

“Kami minta Satpol PP agar menjaga keamanan di sekolah. Apalagi guru kami sebagian besar perempuan,” katanya.

Saat ini, kata dia, proses belajar mengajar di sekolahnya berjalan dengan baik. Sementara itu, sejumlah petugas dari Satpol PP berjaga di sekolah tersebut.

Senada disampaikan Kadis Pendidikan Kota Parepare, Kadarusman Mangurusi, mengatakan pihaknya telah melaporkan ahli waris atas penyerobotan dan pengrusakan aset daerah.

“Kita sudah laporkan orang yang melakukan penutupan dan pengrusakan itu. Hal ini untuk memberikan pelajaran kepada mereka, kita ini negara hukum. Jangan bertindak seenaknya,” katanya.

Terpisah, petugas piket SPKT Polres Parepare, mengaku belum ada laporan resmi yang masuk terkait penyerobotan SMPN 9. Hanya saja kata dia, tadi pagi Polres melakukan mediasi kepada ahli waris dan Dinas Pendidikan serta Kepala Sekolah.

“Belum ada masuk laporan dari Pemkot terkait penyerobotan atau perusakan aset daerah,” katanya.

Sementara ahli waris, Dhedi, mengaku perkara lahan tersebut sudah ada penetapan dari pengadilan. Bahkan kata dia, pada tahun 1981 lalu sudah dilakukan permintaan eksekusi.

“Kita sudah dibantu Polres Parepare untuk di mediasi, namun hasilnya nihil. Rencananya akan ada mediasi ulang, tapi belum jelas jadwalnya kapan. Kami hanya minta, apa yang menjadi hak kami dkembalikan. Kami pun akan turun bersama pihak pertanahan untuk meninjau batas lahan milik kami. Semoga ada penyelesaian,” harap Dhedi.