Proses UU Dikti ‘Abal-abal, Orange Menggugat Duduki Fly Over

Reporter :
Editor : Lucky

Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam Aliansi Orange Menggugat Pemuda Simpul Pembebasan melakukan aksi demontrasi di Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo, Selasa (31/10/2017).
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam Aliansi Orange Menggugat Pemuda Simpul Pembebasan melakukan aksi demontrasi di Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo, Selasa (31/10/2017).

Online24, Makassar – Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam Aliansi Orange Menggugat Pemuda Simpul Pembebasan melakukan aksi demontrasi di Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo, Selasa (31/10/2017).

Aliansi Orange Menggugat yang mulanya melakukan aksi long march dari depan kampus UNM menuju ke Fly Over sebagai bentuk kepeduliannya terhadap masyarakat yang termiskinkan akibat korupsi dan kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap pemerintah.

Orange Menggungat melalui Ketua BEM UNM, Mudabbir, mengatakan, kini permasalahan yang dirasakan oleh mahasiswa di seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia yakni Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UU Nomor 12 tahun 2012) serta demokratisasi kampus yang amburadul dan tidak karuan.

“Impelementasi dari UU Dikti ini memiliki dampak yang sangat besar bagi arah pendidikan tinggi yang mengarah pada komersialisasi dan liberasi yang dipertegas seperti pada Pasal 62, 65, 82, dan 90,” ungkapnya.

Selain itu, kata Mudabbir, meningkatnya biaya kuliah tiap tahunnya, penggunaan fasilitas kampus yang mahal, serta realisasi transparansi dan akuntabilitas Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tidak menemukan titik cerah, ini mengarah pada pelepasan tanggungjawab negara terhadap menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia.

“Ruang-ruang kampus semakin dibatasi dan terkesan mengarahkan mahasiswa pada satu jalan. Hal itu dapat dilihat dari berbagai aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Indonesia mendapat tindakan refresif dari pihak-pihak di luar mahasiswa,” ujarnya.

“Kebebasan berekspresi semakin dikekang bahkan berujung pada pemecatan mahasiswa (DO). Lihat saja, selama ini mahasiswa sering mendapat tindakan refresif dari aparat kepolisian karena menyuarakan suara-suara keadilan,” tambahnya.

Adapun yang menjadi tuntutan dari Orange Menggugat yakni cabut UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, wujudkan demokrasi sejati, kembalikan subsidi listrik 900 VA untuk masyarakat menegah ke bawah, mendesak BNN untuk memberantas penyalagunaan narkoba, tegakkan supremasi hukum dan berantas korupsi, menolak UU organisasi kemasyarakatan, hentikan perampasan tanah, dan tolak reklamasi.

Dalam aksi ini, ‘Orange Menggugat’ juga membawa keranda mayat dengan bertuliskan ‘Matinya Demokrasi’. Ini sebagai bentuk singgungan terhadap pemerintah yang hanya mementingkan kekuasaan.(*)