5 Peraturan dan Larangan Aneh di Korea Utara Yang Berakibat Eksekusi Mati

Editor : Lucky

Presiden Korea Utara, Kim Jong Un (foto: int/Business Insider)
Presiden Korea Utara, Kim Jong Un (foto: int/Business Insider)

Online24, Pyongyang – Korea Utara dikenal sebagai negara paling tertutup. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dianggap sebagai diktator paling gila di dunia. Ia dianggap orang aneh oleh masyarakat dunia, bahkan di negaranya sendiri.

Oleh karena itu, banyak warganya yang merasa tidak betah tinggal di Korea Utara lantaran terlalu banyak peraturan dan larangan-larangan aneh. Diketahui, ketika melanggar peraturan di Korea Utara, mereka tidak akan segan-segan mendapat sanksi berat, bahkan mendapat mengeksekusi mati.

Berikut beberapa peraturan dan larangan aneh di Korea Utara yang dapat berakibat eksekusi mati:

1. Larangan beribadah
Setiap tahun selalu ada rakyat Korut yang disiksa lantaran hanya karena ketahuan sedang beribadah. Pada bulan November 2013, sebanyak 98 orang dieksekusi mati di hadapan publik hanya karena ketahuan menyimpan kitab salah satu agama.

2. Akses nonton TV
Hanya ada 10 saluran TV di Korea Utara, semua chanel hanya Program Propaganda Pemerintah. Diketahui lebih 230 warga Korut telah dieksekusi mati hanya karena nonton TV dari saluran lain.

3. Tidur saat rapat
Ketiduran saat rapat, Menteri Pertahanan Hyon Yong Chol, dijatuhi hukuman mati dari regu tembak bersenjata berat. Diketahui, senjata yang digunakan adalah jenis senjata mesin otomatis yang biasa digunakan untuk menghancurkan sebuah pesawat tempur.

4. Korupsi danbergaya hidup kapitalis
Jang Song Taek, seorang penasihat politik sekaligus paman dari presiden Kim Jong Un menerima hukuman mati dari regu bersenjata kaliber berat. Paman Kim Jong Un itu dieksekusi lantaran dituduh korupsi dan bergaya hidup kapitalisme dengan menghambur-hamburkan uang sebanyak 3 juta pondsterling miliknya di atas meja judi.

5. Kerja tidak becus
Direktur Departemen Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara, Ma Won Chun, dieksekusi mati pada November 2014 lalu lantaran hanya salah mendesain bandara penerbangan baru di Kota Pyongyang, ibukota Korea Utara. Bukan hanya dia, empat pejabat tinggi lainnya yang turut membantu arsitek pembangunan bandara itu juga ikut dieksekusi.(*)