Marc Klok Ungkap Keistimewaan Suporter PSM Makassar Dibanding Klubnya di Eropa

Editor : Asri Muhammad
Marc Anthony Klok (depan)

Online24, Makassar – Marc Anthony Klok telah menjalani musim perdananya bermain di kompetisi sepakbola Tanah Air. Gelandang berusia 24 tahun ini membela klub PSM Makassar, dan finis di posisi ketiga di Liga 1 Indonesia musim 2017.

Saat ini, pemain bernomor 10 itu masih menikmati libur jeda kompetisi di kota kelahirannya, Amsterdam, Belanda. Meski berkompetisi di Asia dinilai suatu kemunduran bagi karirnya yang baru berusia 23 tahun kala gabung dengan PSM pada Januari 2017, namun tidak di mata Klok.

“Saya tinggal di sini (Amsterdam) namun impian masa kecil saya, belum bisa saya wujudkan di Eropa. Saya tidak melihat transisi saya ke Asia sebagai langkah mundur, tapi sebagai langkah baru di dunia lain. Aku benar-benar tinggal di antara dua dunia sekarang,” kata Klok saat diwawancara media Belanda, Elv Voetbal belum lama ini.

Menurut Klok, justru pilihannya ke Asia adalah langkah tepat menyelamatkan karir sepakbolanya karena sulit bersaing mendapat tempat di skuad inti di Eropa. Selain itu, masalah perbedaan perlakuan fans PSM Makassar yang membuatnya betah, dibanding saat ia memperkuat klub-klub Eropa.

“Di Belanda, saya berbicara realistis. Ketika saya mengendarai motor dan tidak ada yang mengenal saya. Paling banyak, beberapa teman lama. Di Makassar saya tidak bisa lagi berjalan tenang di jalan. Orang-orang ketika melihat saya, lalu memanggil ‘Ewaklok, Ewaklok’ dan ingin tanda tangan, berfoto atau berbincang,” lanjut Klok.

Menanggapi besarnya antusiasme suporter tim Juku Eja, mantan pemain Dundee United dan Oldham Athletic ini mengaku senang dan tak membuatnya risih.

“Terkadang saya sibuk dengan para penggemar, tapi saya selalu berusaha untuk menyenangkan sebanyak mungkin orang dengan foto atau tanda tangan. Tidak seperti orang di sini (Belanda) pada umumnya, mereka tersenyum dan menyapa saat mereka melihat saya atau pemain (PSM) lainnya. Saya menghargai keramahan mereka,” paparnya.

“Bagi mereka, pertandingan PSM benar-benar sesuatu yang wajib ditonton setiap pekan. Semacam melarikan diri dari kehidupan sehari-hari,” tambahnya.