Praktisi Hukum Nilai Vonis Bebas Alex Hasil “Main Mata”

Editor : Andhika BD
Alexander Sirua

Online24, Makassar – Praktisi hukum, Moh Maulana menilai ada unsur kesengajaan, bahkan main mata dalam penanganan kasus ini baik dari penyidikan, sampai pada persidangan dan putusan.

Ia menilai pasal yang diterapkan kepada Alex tidak maksimal.

“Padahal seharusnya jika mengacu pada pasal yang disangkakan, ancaman hukumannya cukup tinggi, yakni sampai 10-15 tahun,” ujar pria yang juga merupakan Wakil Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Makassar (YLBH-Makassar) tersebut.

Alex sendiri dalam hal ini disangkakan terhadap pasal 197 Undang-undang Kesehatan tahun 2009, yang bunyinya bahwa setiap orang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp.1.500.000.000,00.

Maulana menjelaskan dengan mengacu pada pasal tersebut, harusnya disingkronkan dengan barang bukti yang mencapai ribuan, sehingga Alex masuk kategori gembong atau penjual skala besar.

“Makanya saya katakan dalam kasus ini memang ada main mata atau pun kongkalikong. Apalagi Gembong juga kalau di negeri ini biasanya kebal hukum,” kata Maulana.

Untuk itu, ia mendesak jaksa untuk melakukan banding terhadap putusan Hakim.

“Jaksa harus banding, sebagai penebus kesalahan mereka. Apalagi sudah dilihat sendirikan, bagaimana penerapan tuntutannya yang sangat ringan. Padahal dalam perkara Narkotika, tuntutan dihimbau agar diterapkan maksimal bukan minimal,” ujarnya.

Sekedar diketahui, Alex adalah pemilik ribuan obat daftar G. Dia sempat membuat publik heboh karena sempat bebas saat ditahan oleh pihak polda Sulsel.

Kini ia kembali membuat heboh dengan putusan pengadilan. Dalam sidang putusan itu, majelis hakim menilai Alex melanggar pasal 197 undang-undang Kesehatan 2009. Meski ancaman hukuman 15 tahun penjara, namun majelis hakim hanya memvonis Alex dengan hukum 4 bulan penjara dipotong masa tahanan 2 bulan. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan JPU yakni 6 bulan penjara.