Ratusan Warga Takalar Kepung PN Makassar, Ada Apa?

Reporter :
Editor : Lucky
Syaiful Rahim alias DgTarra bersama Jemi Arifah saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Makassar, terkait kasus human trafficking (perdagangan manusia), Kamis (14/12/2017)
Syaiful Rahim alias DgTarra bersama Jemi Arifah saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Makassar, terkait kasus human trafficking (perdagangan manusia), Kamis (14/12/2017)

Online24, Makassar – Ratusan warga yang berasal dari Kabupaten Takalar mengepung Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Jalan RA Kartini, Kamis (14/12/2017). Mereka akan mengawal sidang putusan kasus human trafficking warga negara Asing terhadap Syaiful Rahim alias Dg Tarra dan Jemi Arifah alias Rziky

Kedatangan ratusan warga Takalar ini sebagai bentuk dukungan ke terdakwa, Daeng Tarra, yang diduga telah melakukan penjualan manusia beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, pada Maret 2017 lalu, Bareskrim Polri menangkap tiga orang di Makassar karena diduga akan memberangkatkan warga negara asing (WNA) asal Nepal melalui Bandara Soekarno Hatta ke Makassar dan kemudian menuju Australia melalui Maluku. Ketiganya adalah Muhammad Alif alias Sonan Galan, Haji Saiful Rahim alias Daeng Tara, dan Jemi Arifah Tutu alias Rizki

Ada 9 WNA asal Nepal yang diamankan saat itu. Empat orang merupakan tahanan imigrasi yang kabur, sedangkan lainnya memiliki paspor tapi tidak memiliki izin tinggal. Mereka masuk ke Indonesia secara legal dengan visa kunjungan, tapi mereka menunggu di Indonesia untuk keberangkatan ke Australia.

Setiap imigran dibebankan biaya Rp 33,2 juta sampai Rp159 juta yang dibayarkan kepada tersangka Alif. Alif sendiri berasal dari Nepal tapi memiliki Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Identitas Indonesia.

Salah seorang warga, Abdul Samad, mengatakan bahwa tidak ada bukti yang kuat untuk menghukum Dg Tarra. “Karena tidak ada saksi dan tidak bukti yang bisa membuktikan Beliau melakukan human trafficking,” ucapnya.

Sementara bukti ditemukannya sejumlah uang di rekening Dg Tarra, Samat mengatakan bahwa itu bukan hasil dari human trafficking, melainkan hasil dari penjualan kapal kayu.

“Nah diduga ada transfer dana ke rekening Dg Tarra untuk menjual ini orang. Tapi pada dasarnya tidak saksi, tidak bukti yang mengarah bahwa ada uang masuk ke rekening Beliau. Kaluapun ada uang yang masuk, itu karena Beliau pernah menjual kapal kayu bersama seseorang,” ungkapnya.

“Itu sisa pembayaran Rp 80 juta dikirim ke rekening jadi tidak ada hubungan dengan penjualan manusia,” lanjutnya.

Dari pantauan Online24jam.com, saat ini warga memasuki ruang pengadilan untuk mendengarkan pembacaan vonis hakim. Sementara, sejumlah aparat kepolisian masih berjaga di luar ruang persidangan.(*)

Massa yang merupakan warga Takalar menduduki PN Makassar (foto/Ade)