PBB Tolak Keputusan Donald Trump Akui Yerusalem Ibukota Israel

Editor : Aris Munandar

Online24, Makassar – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Ini diputuskan setelah digelar voting saat sidang Majelis Umum PBB, sejumlah negara tetap memberikan mosi menolak pernyataan AS terkait Yerusalem meski telah diancam Presiden Donald Trump.

Dikutip dari Detik.com yang melansir AFP Jumat (22/12/2017), dari 193 anggota Majelis umum PBB, 123 memilih mosi menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, 9 negara menolak mosi tersebut, sementara 35 negara memilih abstain. Utusan Palestina, Riyad Mansour mengatakan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai “kemunduran besar-besaran” untuk Amerika Serikat.

Adapun negara yang ikut bergabung bersama AS menentang mosi menolak pengakuan AS terhadap Yerusalem adalah Guatemala, Honduras, Israel, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau dan Togo.

Di antara negara-negara yang abstain adalah Argentina, Australia, Kanada, Kroasia, Republik Ceko, Hungaria, Latvia, Meksiko, Filipina, Polandia, Rumania dan Rwanda.

Menjelang sidang darurat PBB tersebut, Duta Besar AS Nikki Haley sempat memberi peringatan bahwa Amerika akan mengingat apa yang terjadi saat voting. Dia juga menegaskan bahwa AS akan tetap menempatkan duta besarnya di Yerusalem.

“Amerika akan menempatkan kedutaan kami di Yerusalem,” kata Haley dalam membela langkah AS, yang melanggar konsensus internasional dan tidak memperdulikan demonstrasi di seluruh negara Muslim.

Haley juga menegaskan tidak tidak ada suara di PBB yang akan membuat perbedaan. Namun menurutnya, voting tersebut akan membuat perbedaan bagaimana orang Amerika memandang PBB, dan bagaimana AS memandang negara-negara yang tidak menghormati AS di PBB.

“Ketika kami memberikan kontribusi yang besar kepada PBB, kami juga memiliki harapan yang sah bahwa goodwill kami diakui dan dihormati,” tegasnya.

Resolusi tersebut menegaskan kembali bahwa status Yerusalem harus diselesaikan melalui negosiasi, dan bahwa setiap keputusan yang berada di luar kerangka kerja tersebut harus dibatalkan.

Sebelumnya, Trump mengancam negara-negara yang akan memberikan voting menolak pernyataan AS terkait Yerusalem. Ancaman itu berupa pengurangan dana yang akan diberikan kepada negara tersebut saat konferensi pers di Gedung Putih, Rabu (20/12/2017) waktu setempat.