Kritikus Film Menilai Ada Diskriminasi Pada Film Daerah di Makassar

Editor : Muh. Idris
Foto: Serikat Kritikus Film
Foto: Serikat Kritikus Film

Online24,Makassar – Kehadiran film Maipa Deapati Dan Datu Museng yang kini mulai dipadati penonton, membuat sejumlah penikmat Film di Makassar yang tergabung dalam Serikat Kritikus (SERIUS) Film. Makin membuka mata mereka, melihat adanya dugaan diskriminasi pada film-film daerah.

Hal itu terungkap dalam pertemuan penyusunan pengurus definitif Serikat Kritikus (SERIUS) Film, yang dilaksanakan di gedung Graha Pena baru-baru ini., Jumat,(12/1/2018).

Dalam pertemuan itu, sempat disinggung mengenai dominasi film impor di bioskop-bioskop di Makassar ketimbang film dari daerah Makassar sendiri.

Film impor dinilai masih menguasai pasaran dan selalu mendapatkan perlakuan istimewa dari pihak bioskop. Sehingga, film-film yang diproduksi dari daerah kerap “dianaktirikan”.

Padahal jika dilihat, film yang diproduksi daerah juga mengeluarkan biaya cukup besar dalam memproduksi film.

Sebagaimana diutarakan Sunarti Sain, yang mengatakan film impor lebih diperhatikan dari film Indonesia. Ini terjadi lagi di negeri ini.

“Di Makassar, film Maipa Deapati dan Datu Museng di hari pertama full house semua bioskop. Di hari kedua pihak bioskop sudah peka dengan menambah layar. Tapi Mal Ratu Indah hanya ditambah 2 show terakhir pukul 7 malam dan 9 malam (jadi kalau penonton datang jam 12 siang disuruh nunggu sampai malam?)”.ketusnya.

“Padahal menurutnya penonton hari pertama di Mari tak sisa satu kursi pun. “Pertanyaannya kalau penonton sedikit kok bioskop dengan tanpa perasaan asal mencopot dan menururnkan layar film Indonesia meski baru 1 hari main! Kenapa saat penonton banyak bahkan full tidak ditambah jumlah layarnya?”. tambahnya.

Hal senada juga disampaikan Zulkifli Gani Ottoh, selaku ketua Serikat Kritikus Film. “Kita juga harus melihat bagaimana pihak pemilik bioskop, menyambut produksi film daerah. Karena kayaknya kita masih disepelekan,”pungkasnya.