Uni Afrika Minta Donald Trump Minta Maaf Soal “Lobang Kotoran”

Editor : Aris Munandar

Online24, Makassar – Pernyataan Presiden AS Donald Trump kembali menuai protes. Kali ini Uni Afrika selaku organisasi yang mewakili negara-negara Afrika meminta agar Donald Trump meminta maaf setelah dia dilaporkan menyebut negara-negara di benua itu dengan “lobang kotoran”.

Perwakilan kelompok tersebut di Washington DC mengungkapkan rasa terkejut, kecewa, dan marah dan mengatakan bahwa administrasi Trump salah memahami orang-orang Afrika.

Presiden AS itu membuat pernyataan itu dalam sebuah pertemuan pada hari Kamis (11/1/2018) lalu mengenai imigrasi.

Tapi Trump menyangkal bahwa dia menggunakan kata-kata yang dilaporkan. Sangkalannya didukung oleh dua orang Republikan yang ikut di pertemuan Gedung Putih itu.

Namun Senator Demokrat Dick Durbin mengatakan bahwa Trump beberapa kali menyebut negara-negara Afrika dengan “lobang kotoran” dan menggunakan kalimat yang “rasis”.

Pada hari Jumat, Trump mengetwit bahwa dia menggunakan kata yang “keras” dalam pertemuan pribadi dengan anggota parlemen untuk membahas undang-undang imigrasi.

Tapi dia menambahkan bahwa kata-kata yang dikaitkan dengannya adalah “bukan yang digunakan”.

Hal ini direspon Uni Afrika. Dikutip dari BBC Indonesia, organisasi itu mengatakan “ucapan itu mencemarkan kredo Amerika yang dipuja dan mencemarkan penghormatan terhadap keragaman dan martabat manusia”.

Mereka menambahkan: “Sementara kami mengungkapkan keterkejutan, kekecewaan dan kemarahan kami, Uni Afrika sangat percaya bahwa ada kesalahpahaman besar mengenai benua Afrika dan rakyatnya oleh pemerintahan saat ini.”

“Ada kebutuhan serius untuk dialog antara Pemerintah AS dan negara-negara Afrika.”

Kelompok pan-Afrika itu mewakili 55 negara anggota di seluruh benua. Organisasi ini adalah kelanjutan Organisasi Persatuan Afrika – yang berasal dari perjuangan dekolonisasi pada awal 1960an – pada tahun 2002.

Banyak media AS melaporkan komentar tersebut pada hari Kamis, mengutip keterangan saksi atau orang pada pertemuan tersebut. Gedung Putih tidak membantah komentar tersebut.